Rabu, 12 April 2017

Mendidik Anak Pintar ala Saya

Picture by : Pixabay

Anak Bunda sudah masuk SD? Tahun lalu anak saya baru masuk sekolah Dasar Negeri dengan umur  6,8 tahun. Itupun masih cadangan lo. Rata-rata di Batam, Sekolah Negeri harus mencapai umur 7, baru bisa diterima. Beda dengan swasta, yang memperbolehkan umur minimal 6 pas pada periode daftar, Juli. Quota yang kurang, ditambah saya tinggal di komplek yang masuk dalam lingkungan sekolah atau di sebut juga "Bina Lingkungan", makanya anak saya dan beberapa anak tetangga bisa di terima di sekolah sekarang ini.

Serangkai tes yang diadakan pihak sekolah, Alhamdulillah anak saya bisa melewatinya. Seperti membaca kalimat, pengetahuan warna, dan pertanyaan tentang keluarga, nama sendiri, bapak ibu dan alamat tempat tinggal. Padahal anak saya tidak TK lo Bun, tapi hanya saya ajar di rumah dengan bantuan tantenya juga.

Sebetulnya andil terbesar yang bisa membuat anak saya "bisa" adalah tantenya. Saat bekerja, anak-anak saya titipkan pada kakak saya, yang kebetulan hanya di rumah membuka Les Bahasa Inggris. Rutinitas kerja saya dengan rentang waktu 9 jam (8.00 sampai 17.00), mungkin hanya sebagian kecil saja yang bisa saya tambahkan.

Sedari kecil, kakak saya sudah membiasakan anak-anak berbicara dengan Bahasa Inggris. Dan sampai sekarang pun mereka tetap menggunakan bahasa ini bertiga. Anak-anak mengerti, walau kadang menjawabnya dengan campur, setengah Inggris setengah Indonesia. Adakalanya si sulung Queen bertanya bila tidak tahu, dan selalu diajarkan beserta jawabannya. Makanya, bahasa Inggris bukanlah bahasa yang asing di telinga anak-anak saya.

Sekedar informasi ni, kakak saya ini hobi traveling, dia bahkan sudah melanglang Asia dan Eropa. Bekerja dengan orang asing dari tahun 95, tahun 2000, dia pun sudah menginjakan kakinya di Negari Ratu Elizabeth, selama satu bulan. Itupun karena teman bulenya, mau pulang kampung, dan menawarkan kakak saya untuk ikut.

Well, abaikan tentang kakak saya dan teman bulenya. Sekarang saya mau membagi sedikit tentang metode pengajaran yang dilakukan kakak saya dalam Bahasa Inggris, dan tentu juga saya sebagai mak nya dalam penggunaan Bahasa. Alat bantunya, tentu saja stiker, gambar dan huruf yang di tempel pada dinding rumah.

stiker di dinding sebagai acuan


PENGENALAN HURUF
Awalnya anak saya selalu ikutan menulis saat les berlangsung di rumah. Walau belum bisa, tapi keingintahuannya menulis begitu tinggi. Akhirnya dapat cara untuk mengajarkan secara simpel tapi dapat dimengerti untuk anak seusianya.

Pertama di ajarkan dahulu 5 huruf, dari a, b, c, d, e selanjutnya  f, g, h, i, j, k sampai terakhir z. Tiga hari saja dengan usia yang masih 3,5 tahun, Queen sudah bisa menghafal dari a sampai z. Namun disini kakak saya tetaplah mengajarkan dia dengan pronoun Inggris. Dan setiap saya pulang kerja dia selalu melaporkan proses belajarnya, dan apa saja yang sudah dikuasainya. Awalnya dia belum bisa membedakan antara a dan e, dan e dan i.
a dalam bahasa tetap di baca a, sedangkan dalam inggris a dibaca e.
e dalam bahasa tetap e, sedangkan i dalam inggris dibaca ai.
Makanya di saat saya baca a, tetap lah a dalam bahasa, tapi dianya tetap keukeuh bilang a itu adalah e.

Lantas bagaimana dengan menulis huruf? Cukup dengan cara yang juga dimengerti oleh anak-anak saja. Seperti contoh di bawah ini.

Huruf b diucapkan one leg and big tummy. Satu kaki dengan perut besar.
Huruf i diucapkan one leg and spot up. Satu kaki dengan titik di atas.
Huruf k diucapkan dengan one leg, small leg and small leg. satu kaki, kaki kecil dan kaki kecil
Huruf w diucapkan dengan one leg, two leg, three leg and four leg.
Nah seperti itu seterusnya. Menulis sambil mencontoh gambar huruf yang ada di dinding.
Penulisannya sesuai dengan arah anak panah pada gambar


PENGENALAN ANGKA
Tetap dengan bantuan gambar, yang di mulai dengan pengenalan angka 1 sampai 10, Queen diajarkan dengan cara ditunjuk sambil diucapkan. Satu hari saja sudah hafal olehnya. Besoknya kakak saya cuma bilang,” Queen, please count until ten”. Setelah dia tahu angka dalam inggris, dilanjutkan dengan saya mengajar dalam versi bahasa. Semuanya lancar juga dalam satu hari.
Lantas bagaimana bisa sampai 100? Angka sebelas ke 19 diajarkan dalam 2 hari. Disini ditekankan bahwa akhiran untuk angka satu di depan adalah teen setelah angka 12. Angka 20 dan seterusnya berakhiran ty, urutan angka harus sesuai dengan urutan pada angka awal.  Seperti gambar di bawah ini.

angka untuk pembelajaran


MEMBACA PERKATA 
Sukses dengan huruf dan angka, dilanjutkan dengan membaca perkata. Awalnya dengan diucapkan seperti cara saya sekolah dulu. Namun harus diberi sedikit penekanan pada huruf awal.
l-a la  l-u lu = lalu
diberi penekanan pada huruf l
b-u bu  d-i di = budi
di beri penekanan pada huruf b

Tidak hanya metode belajar yang saya andalkan. Saya juga melengkapi anak saya dengan buku lain untuk dipelajarinya. Seperti, drawing book, menyambung huruf dengan garis putus-putus, nama benda beserta gambar dengan 2 versi, serta buku cerita bergambar.

Semua bisa cepat dikuasai, karena waktu yang sebagian besar dengan kakak saya di rumah, yang memungkinkan dia dengan mudah belajar dengan cepat. Apalagi pagi dan sore kakak saya mengajar bahasa Inggris yang kadang membuat Queen suka nimbrung dan  menjadi penjawab terakhir dari ketidaktahuan pertanyaan yang di lontarkan.

Saya dan kakak tidak memaksa anak saya harus belajar setiap hari. Semua diajarkan apabila dia sudah meminta untuk belajar. Karena memaksa anak untuk belajar di usia yang baru 3.5 tahun, yang masih suka main dan berlarian kesana sini, tentu tidak baik untuk perkembangannya.

Alhasil di umur yang masih 4 tahun, anak saya sudah bisa membaca dan menulis, walau tulisannya masih belum rapi. Karena itulah Queen tidak saya masukan TK, karena saya pikir dia sudah menguasai angka dan huruf dengan baik. Biarlah dia puas bermain dan belajar semaunya, berlari kesana kesini, bahkan bolak balik ke kampung selagi masih belum masuk SD. Karena saya tahu, masuk SD tidak mengharuskan anak untuk TK terlebih dahulu. Lagipun masih bisa hemat lo Bun. Hehe


Dan sekarang Queen pun sudah menunjukan prestasi yang cukup membanggakan. 6 bulan pertama sudah meraih peringkat 3, dan mid semester yang akhir maret ini diadakan, berhasil meraih peringkat 1. Wah..bahagia banget lo Bun.

Ketika menghadapi ujian, selain saya dampingi belajar, dan ada juga kunci yang selalu saya tekankan saat memulai ujian.
1. Sebelum ujian berdoa terlebih dahulu.
2. Baca soal dengan baik.
3. Jawab dulu pertanyaan yang tahu jawabannya.
4. Cek kembali dengan menggunakan tangan soal dari nomor 1 sampai selesai, beserta jawabannya.

Jadi pembelajaran juga buat kita Bun, karena sewaktu ujian semester pertama, anak saya sempat terlewat menjawab satu soal yang memang saya lihat pertanyaannya pendek, sehingga tidak terisi olehnya. Dan yang paling penting nih Bun, jangan lupa doakan anak kita setiap saat, apalagi saat ujian berlangsung.

Menjadi Ibu dengan segala keahlian yang harus dimiliki tidak lah mudah. Seorang Ibu benar-benar dituntut harus bisa menjadi guru, dokter, binatu dan juga pelayan. Butuh kesabaran dalam mendidik anak untuk masa depan yang lebih baik nantinya. Bagaimana anak bisa sukses dalam agama, dan juga dalam karirnya

Sepenggal cerita dari keluarga kecil saya. Moga bermanfaat bagi bunda yang punya anak seusia Queen ya.
Itu didikan anak saya, bagaimana dengan mas Akut Wibowo? Didikan anaknya seperti apa sih? Share dong?

See ya to the next story. 

24 komentar:

  1. Whuaaah.. makasih kak marza..
    Ini info yg sedang saya butuhkan utk Ziqrianak saya. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mudah-mudahan ziqri semangat ya belajarnya.

      Hapus
  2. Saya dulu diajarin kakak juga. Jadi gak pernah TK, tapi bisa membaca sejak masuk SD :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Era 90an beda dengan sekarang bang Uma.

      Hapus
  3. tips-nya seru mbak

    saya juga pernah nempelin ke dinding karton tulisan huruf dan angka tapi dikelupas terus sama anaknya hihihi
    nulis pake huruf putus juga saya praktekkin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..resiko anak yang aktif emang gitu mbak.. maunya nulis langsung di stikernya.

      Hapus
  4. untuk belajar huruf ama angka mending jgn sekalian ya mba...lima2 biar gampang ingant..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus bertahap mbak..tergantung daya tangkap anaknya juga sih, kalo menurut saya.

      Hapus
  5. Aku juga pakai poster gini. Kadang bingung mau ajarin dalam bahasa atau English.
    Makasih ya tipsnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah dua-duanya mbak. English di rumah, di lingkungan pake bahasa, yang menurut saya jelas udah nangkap sendiri tuh anak-anak.

      Hapus
  6. Makasih tipsnya mbak yulia. Wah, aku mau praktekkan utk anakku juga metodenya

    BalasHapus
  7. Wah info yang berguna banget nih buat saya biar nanti kalau punya anak sudah punya bekal.

    BalasHapus
  8. Kalau pake dual-bahasa gitu.. Anaknya bingung gak, mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya iya, agak ribet dalam bedain adan e trus e dan i. Tapi sekarang sudah tau dia.

      Hapus
  9. Saya juga ngajari pakai dua bahasa..... Memang awalnya bingung. Saat menyebutkan sesuatu ingetnya lebih bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesianya... Hehehe. Repotnya kalau pas main sama temen, temennya bilang kucing, si kakak bersikeras cat.... abis dulu yang diinget Englishnya. Tapi sekarang sejak 5 tahun ke atas, sudah bisa membedakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HahahA..sama mbak menix, ada beberapa bahasa juga yang sempat keliru. Tapi sekarang sudah bisa membedakannya juga.

      Hapus
  10. Penasaran pengen mencoba langsung tipsnya mba :)
    Makasih sudah berbagi

    BalasHapus
  11. Mendampingi anak belajar memang asik kalau tau tips nya ya mba. Jd ingetTjaman aku ngajari anak nulis hutuf dan angka. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada keseruan tersendiri mbak. Apalagi kalau si anak semangat tuk belajar. Mak nya semangat 45 juga. hehe

      Hapus
  12. baru tahu kalau ngajarin anak anak ada tekniknya juga ya, tips bagus nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dong,cara pikir anak yang belum sekolah dengan yang masih buta dengan huruf dan angka, beda banget malah.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.