Monday, 14 August 2017

Mengintip Hutan Singapura Melalui Forest Walk


Kali ini saya kembali menjejakan kaki ke Negera Tetangga, Singapura. Tujuan wisata terdekat yang hanya ditempuh 45 menit via jalur laut. Negeri Singa ini, memang menjadi salah satu tujuan masyarakat Batam untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Walau hanya sekedar jalan, makan, mengunjungi saudara yang bekerja di sana, atau shopping di pusat perbelanjaan termurah.

Jangan salah sangka dulu, ini bukan gaya-gayaan sih, liburan ke luar negeri. Tapi emang cuma negara ini lah yang paling dekat dari Batam dibanding Malaysia. Gak perlu merogoh kocek terlalu dalam buat nyampe seberang. Cukup 500rb rupiah saja, kita sudah bisa mengunjungi tempat-tempat cantik dan gratis di sini.

Jenuh, salah satu alasan untuk rehat sejenak. Berkutat dengan rutinitas kerja dari Senin sampai Jumat, ditambah kerjaan rumah dan anak-anak, wajar lah ya bikin jenuh. Saatnya melenturkan syaraf-syaraf otak yang sudah mulai kusut. Sedikit alasan ke Pak Suami, akhirnya izin ke Singapur keluar juga walau hanya satu hari. Yah..gak papa la, lumayan.

Saya pergi dengan teman yang bernama Sazila. Berangkat pagi dengan ferry Batam Fast, saya mulai memasuki imigrasi Singapura yang tidak terlalu padat. Sesaat pandangan terpaku kepada sosok yang saya kenal sedang antri di lorong depan antrian saya. Ya.. itu Mr. Hira, President Direktur di tempat saya bekerja. Beliau melihat saya. Kami pun bercakap-cakap sebentar. Ternyata beliau dan istri akan pergi ke Malaysia, tapi singgah satu malam di Singapur.

Baca juga : Tempat Asyik Berbayar yang Perlu Dicoba Saat di Singapura

Lolos Imigasi, saya langsung meluncur ke tempat yang sudah kami incar. Salah satunya menuju Hutan yang terletak di Henderson Road. Hmm..mengapa ke sini? Saya terinspirasi dari cerita Mbak Dian Radiata tentang hutan ini. Boleh meluncur ya ke Blog Mbak Dee. adventurose.com

Hutan dengan Forest Walk

Saya menaiki bus menuju Alexandra Road untuk sampai Southern Ridges. Jam tiga lewat, saya sampai di halte. Rasanya udah gak sabar menaiki Alexandra Arch, jembatan cantik dengan panjang 80m. Namun sebelum menaikinya, saya melewati Hotrpark, the gardening hub. Sebuah taman yang banyak sekali dihiasi oleh bunga-bunga cantik yang menyejukan mata. Sayang saya tak sempat mengabadikannya, karena sudah gak sabar menaiki forest walk.

Di atas Hortpark ini, saya menaiki jembatan menuju rute yang akan saya lalui. Nangkring sebentar di Alexandra arch, saya cukup terkesima dengan gaya arsitektur jembatan ini, yang pastinya memukau mata setiap orang yang melaluinya. Puas di sini, semakin penasaran, seperti apa sih isi dalamnya.

Hortpark

Alexandra Arch

Berjalan di sekitar Alexandra Arch, di kiri kanan saya, sudah mulai terlihat pohon kayu dengan beraneka ragam bentuk dan ukuran. Saya cukup menikmati setiap pemandangan yang saya lewati. Sampai lah di Forest walk. Jalanan untuk menelusuri hutan, yang terbuat dari besi dan disusun rapi, hingga menjadi seperti walkways/gang. Forest walk ini lumayan tinggi. Jika melihat ke bawah, akan tampak tanah hutan berwarna coklat cukup jauh karena tingginya. Jangan takut untuk jatuh, forest walk ini sangat aman, karena dikiri kanan jalan juga dipasang pengaman berupa besi yang sama.

Forest walk juga dijadikan jogging track bagi warga Singapura. Ini bisa dilihat beberapa kali saya berpapasan dengan orang yang sedang berlari kecil menyusuri setiap walkways, yang membuat forest walk ini berbunyi karena hentakan sepatu mereka.

Saya terus berjalan. Dari balik pepohonan tampak gedung-gedung yang menjulang tinggi, yang berdiri kokoh, seakan menunjukan keangkuhannya. Ibaratnya hutan ditengah kota. Hingga tak terasa, sampai lah saya di sekitar pepohonan bambu yang lumayan rapat.

Hutan bambu di kiri kanan

Pose cantik with Zila di Forest Walk
Fokus pada forest walk yang berliku di belakang

Interlace, Apartement 1000 dengan model bertumpuk

Gedung-gedung yang menjulang tinggi
Setelah beberapa meter saya melewati walkways ini, saya melihat ada The Singing Forest. Dari keterangan yang saya baca, hutan ini terdapat 38 pohon yang alami yang ditanam untuk menyediakan makanan untuk serangga, dan juga sebagai penarik burung pemakan buah untuk datang ke sini.

The Singing Forest
Tak ada lelah yang saya rasakan, yang ada hanya rasa penasaran dimana forest walk ini akan berujung. Sampai di tikungan walksway ini, saya melihat tangga dan naik ke atas. Apakah itu ujungnya? Ternyata tidak, saya masih menemui jalanan yang sama. Semakin penasaran jadinya. Saya tetap terus berjalan. Hingga saya menoleh ke samping. Wajah Zila sudah menampakan raut kelelahan. Gak tega juga. Saya putuskan mencari titik untuk cepat sampai ke jalan utama. Saya hanya takut lemak tubuhnya berkurang dan dia jadi langsing seperti saya. Hehehe. Maapkeun Zil.

Tangga yang bikin penasaran
Satu jam lebih menaiki forest walk, saya rehat sejenak untuk mengambil nafas sambil meregangkan otot kaki. Sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan rumput hijau dan pepohonan dengan aneka bentuk dan ukuran. Sejuk dan cukup tertata rapi juga. Jadi segar nih mata. Coba kalau di Batam ada yang seperti ini, bakalan asyek tuh.

Setelah cukup mengambil nafas, saya melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini saya melewati Henderson Road yang mulai menurun. Dari peta yang saya lihat, kami akan sampai ke jalan utama. Ternyata benar. Pas belokan terakhir, tampak dari kejauhan hilir mudik mobil yang melintas. Lega menyeruak di dada saya. Akhirnya sampai juga di depan Telok Blangah Hill Park.

Menuju halte Henderson Road, saya dan Zila menunggu bus dengan No. 57 untuk ke Harbour Front. Lelah, capek, puas yang saya rasakan hari itu. Pukul 19.00 Singapur time saya sudah di Ferry Batam Fast tujuan Batam Centre untuk kembali ke Batam. Sedangkan teman saya, stay satu hari lagi di Hotel Boss, karena sudah janjian dengan temannya.

Walaupun satu hari, dengan jalanan yang sedikit tanjakan, cukup lah bagi emak seperti saya mengelilingi hutan Singapur dengan Forest walknya. Merasakan sensasi baru tracking di hutan setelah 22 tahun silam saya melakukan pendakian ke Gunung Marapi dan Singgalang di Padang, yang mungkin tak akan pernah terulang kembali.
Henderson Waves

Pepohonan dan rumput yang menyegarkan mata

Ku tetap berjalan mencari dirimu. Halah.

Tetap pose walau capek

Berjalan menuju Halte Henderson Road
Cerita singkat saat mengelilingi Forest Walk Singapur. Yach begitulah, seperti orang bilang, ada cerita dan moment di setiap perjalanan. Moga terinspirasi.
See ya to the next story. Bye.

39 comments:

  1. Adem ya, di antara bangunan-bangunan pencakar lagit ada hutan kecil.

    ReplyDelete
  2. Asik ya kalau SIngapura punya hutan yang asri seperti ini. BAgus buat kesehatan nih kalau sering main ke sini. Heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, adem, rimbun tapi gak serem..

      Delete
  3. Aku ngiri. Coba hutan di negara kita bisa ditata cantik gitu ya.
    Kayanya bakal fresh banget pulang dari Singapore menghirup udara segar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hutan kita malah identik ama mistik. Padahal kalo ditata dengan baik, pasti bakal jadi salah satu komoditi bagus. Ya kan mbak

      Delete
  4. Kalau saja hutan di kampung saya terawat demikian...
    Ah mimpi... Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mimpi bisa jadi kenyataan kok teh. Hehe

      Delete
  5. Duuhhh job y k Singapore pngen explore jg suatu saat k Sana noted bngt hutanya trjaga

    ReplyDelete
  6. Wah senang banget ya bisa jalan-jalan ya, aku udah lama banget enggak masuk hutan hehe

    ReplyDelete
  7. Aku nggak sempat-sempat main nih ke Handeraon Road. Btw perasaan ada handerson Wave yang jembatan mirip tunnel kayak gak ada ujungnya itu. Kok nggak ke foto ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, gak sempat motonya. next kali ya.

      Delete
  8. ini lho yang aku suka dari Singapura. Gedung tinggi menjulang diimbangi hutan kota yang sejuk. Enak banget buat jalan-jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga suka banget mbak. Makanya rute kali ini milihnya ke hutan, hehe

      Delete
  9. Singapura itu negara yg luasnya ngga seberapa, tp kalo liat banyaknya ruang terbuka hijau di sana, duh saluut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut memang mbak. Karena kecil, makanya bisa ngatur tata kotanya, gedung tinggi menjulang, tapi masih ada pepohonan sebagai paru-paru negaranya.

      Delete
  10. Iy ya, deketan ke singapore ketimbang ke jkt juga sih mbak hehe
    pengen banget kapan2 ke Singapura lewat Batam naik Ferry :D
    Singapore pinter banget ya mengelola wisata, terutama hutan kotanya TFS

    ReplyDelete
  11. Banget mbak, lahan yang tersedia, emang digunakan seefektif mungkin. Salut saya.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Adem, bersih, salut memang lihat Singapore..tata kota nya oke banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, makanya gak bosen nyari tempat tempat bagus disini.

      Delete
  14. weih keren banget orangnya dan backgroundnya jadi baper pengen kesana deh tuk selife cantik wkakaka

    ReplyDelete
  15. Hutan kota yang begini bagus, ya. Udara panas Singapur gak terlalu berasa kalau di hutan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak. Beberapa jalanan yang banyak dikunjungi wisatawan seperti Merlion Square malah ada transparant roof biar gak panas.

      Delete
  16. itulah yg perlu dipikirkan kita ya, untuk kota2 yg sdh besar hrsnay dibuat paru2 kota spt ini agar udaranay seger

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak.Paru2 kota emanng perlu banget.

      Delete
  17. Bahkan soal hutan pun mereka perhatiin betul ya mbk, salut,
    Smoga Indonesia bs niru langkah baik ini, amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah..mudah2an terealisasi ya mbak.

      Delete
  18. Asyik nih sesekali menyusuri hutan singapura.... Saya blm pernah dan penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya karena penasaran itu juga mbak, yang akhirnya meluncur ke sini.

      Delete
  19. Kirain singapura cuma punya gedung bertingkat, ternyata ada juga area khusus hutan ya. Keren !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kok mbak, malah savety lebih di utamain sih.

      Delete
  20. Wah keren tempatnya. Semoga lain kali punya kesempatan ke sana

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo mas..mampir ke negeri tetangga..

      Delete
  22. Kog tidak ada foto di Henderson Waves, mbak?
    Luar biasa desain jembatan itu ya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.