Ragam Cerita Dongeng Terbaik Anak di Aplikasi Let's Read

January 08, 2021 Yulia Marza 9 Comments



Ragam Cerita Dongeng Terbaik Anak di Aplikasi Let's Read
Membaca Digital


Beberapa waktu lalu, seorang teman saya memposting foto majalah anak lama di laman Facebooknya. Majalah tersebut terlihat usang dengan tahun terbit 1989. Walaupun usang, cover kelinci bersweater merah berlogo B dengan celana biru itu, pernah mengisi hari-hari saya di masa kecil

Rubrik dongeng, menjadi konten favorit saya di majalah itu. Di dalamnya terdapat tokoh dengan karakter unik yang menjadi ciri khas satu cerita, seperti Oki Kurcaci berbaju hijau, Bona gajah kecil berbelalai panjang, atau si Sirik yang berwajah seram dengan topi dan dagu lancipnya.

Menariknya, setiap cerita selalu diselipi pesan positif. Di mana tokoh antagonis adalah tokoh jahat, licik, kejam, sedangkan tokoh protagonis digambarkan sebagai tokoh berjiwa penolong, bisa menyelesaikan masalah dengan bijak, kemudian cerita berakhir yang jahat akan kalah, yang baik akan menang.

Selain itu, visual tokoh juga ditampilkan melalui media gambar. Hal ini tentu saja membuat cerita lebih hidup dan menarik. Pembaca pun bisa berimajinasi melalui gambar dan deskripsi cerita.

MINAT BACA DULU dan SEKARANG

Di era 90-an, minat baca cukup mendapat tempat tersendiri. Ini terbukti tingginya oplah penjualan buku, majalah, komik atau tabloid di outlet yang tersedia. Item yang dicari sering kali sold out. Tidak ada kata menyerah untuk sebuah keinginan. Mereka bisa meminjam, berlangganan, atau membaca gratis di toko buku sepulang sekolah. 

Niat memang.

Begitulah. kami masih termotivasi melahap semua bacaan. Komik, majalah, tabloid dan buku-buku pengetahuan. Tidak ada paksaan harus melulu membaca buku pelajaran, atau buku-buku yang ada di perpustakaan. Kesadaran muncul dengan sendirinya, hingga bacaan pun terbagi sesuai porsi masing-masing.

Bagaimana sekarang?

Sebuah studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, dengan tajuk World Most Literate Nations, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 atau nomor dua terbawah dari 61 negara, dalam hal minat baca.

Cukup memprihatinkan. Di era globalisasi, di mana hadirnya internet memudahkan akses menjelajah, mencari informasi yang membuka cakrawala, sumber daya manusianya malah berbanding terbalik. Minat baca rendah. Mereka lebih memilih bermain gadget, berswafoto, bermain game online atau berselancar di dunia maya dengan fitur-fitur menarik di dalamnya.

Padahal usaha berbagai sektor sudah dihadirkan untuk meningkatkan minat baca anak. Di sekolah misalnya, kesediaan sudut literasi di ruang kelas dengan tampilan beralaskan karpet, wallpaper dengan gambar lucu, dan susunan botol warna warni pun belum membuat anak berpaling ke buku. Juga adanya taman bacaan anak yang memudahkan akses membaca, masih belum optimal. Kendalanya adalah minimnya ketersedian buku bacaan sesuai minat anak, hingga anak lebih memilih bermain daripada membaca buku.

Tua, muda asyik dengan gadget. Hingga membaca buku fisik terabaikan. Tidak ada yang salah memanfaatkan gadget demi mengikuti perkembangan zaman. Hanya saja penggunaannya kurang di maksimalkan. Waktu terbuang untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Bila terkendala membaca buku fisik, bacaan digital bisa jadi alternatif menambah wawasan melalui situs-situs yang tersedia.

Let's read buku digital
membaca buku digital dan buku fisik punya keseruan tersendiri


Indonesia terpuruk dalam peringkat literasi, hingga menurunnya minat baca anak. Ada beberapa hal menurut saya, mengapa kita kurang dari segi literasi.

1. KURANGNYA MINAT MEMBACA 

Sering kita mendengar, buku adalah jendela dunia, membaca buku adalah kunci membukanya. Dengan membaca, tentunya akan banyak mendapat informasi dan wawasan. Nah, bagaimana akan mendapat informasi dan wawasan, kalau minat membacanya saja kurang? Malas dan sibuk adalah dua alasan rendahnya minat baca, hingga memilih media praktis untuk mendapatkan informasi, seperti televisi dan media sosial.

2. LINGKUNGAN

Lingkungan berperan penting dalam menumbuhkan minat baca. Terutama keluarga. Keluarga yang gemar membaca, secara tak langsung akan menularkan hobi yang sama pada anak. Begitu juga sebaliknya, bila orangtua saja acuh terhadap buku, bagaimana mereka akan menularkan minat baca pada anak?

3. BUKU di PERPUSTAKAAN KURANG MENARIK

Perpustakaan sekolah yang harusnya menjadi sumber bacaan siswa, kadang menjadi satu kendala enggan mengunjunginya. Ini disebabkan, banyaknya buku lama yang telah usang, dengan tampilan tebal dengan narasi berupa huruf yang membuat anak malas membacanya. Siswa lebih tertarik membaca buku dengan tampilan warna warni dan gambar yang memikat. 

4. CARA BACA INSTAN

Munculnya internet, telah merubah cara pandang orang dalam membaca. Generasi serba instan, menyebabkan rendahnya minat baca. Untuk mendapatkan informasi tentu saja dengan membaca keseluruhan buku, hingga di dapati kesimpulan. Sering terjadi, kebiasaan membaca beberapa bab saja, lalu membuat kesimpulan sendiri. Malah, saking kurangnya niat baca, sinopsis menjadi pilihan terakhir untuk menerka isi buku tersebut.


Data Uji Minat Baca Buku Anak di Lingkungan
uji data minat membaca anak


MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK SEJAK DINI

Sejatinya, minat baca anak harus ditumbuhkan sejak kecil. Sejak anak memasuki usia golden age, di mana anak mulai bisa berbicara, mendengar, menulis, dan menyimak banyak hal. Ini tentu sangat baik merangsang perkembangan kognitif, kreativitas dan sosio-emosional anak dalam menyerap informasi.

Menumbuhkan minat baca anak, tidak harus menyediakan perpustakaan lengkap dengan seabrek buku di dalamnya. Hal simpel bisa dilakukan orang tua dengan mencontohkan prilaku suka akan buku. Seperti saat weekend, saat waktunya santai bersama anak. Biasanya saya dan anak menyediakan waktu membaca buku cerita bersama, sambil berinteraksi tentang isi buku tersebut.

Seperti yang kita tahu, keluarga adalah orang pertama sekaligus guru bagi anak. Di mana anak tumbuh kembang dan belajar dari lingkungan. Keluarga mempunyai kewajiban menyediakan sarana dan prasarana yang baik demi kelangsungan hidup anak. Salah satunya menumbuhkan minat baca. Minat baca yang baik, tumbuh dari kebiasaan. Di mulai dari membaca, mengenalkan bacaan, mendiskripsikannya hingga akan termotivasi gemar akan bacaaan, dan menjadi budaya sampai mereka besar.

Cara lain yang bisa mendorong hobi membaca anak saya adalah mengajak anak membeli buku bersama, dan memberi kebebasan anak memilih buku sesuai keinginannya. Kami bisa membaca bersama, mengemukakan pikiran dengan berinteraksi bersama anak. Bonding akan terjalin hingga menghasilkan komunikasi yang baik, yang nantinya menjadikan anak kuat secara intelektual. Dari hal tersebut, anak akan bisa menemukan segudang manfaat dari membaca.

Manfaat Membaca

MEMBACA MELALUI DONGENG

Salah satu hak anak dalam lingkungan keluarga adalah mendapat pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non fomal. Pendidikan aspek penting yang dapat mengembangkan kreativitas, sosio emotional, dan komunikasi anak, dalam membentuk watak dan karakter ke depannya.

Salah satunya mendidik anak membaca. Menumbuhkan minat baca pada anak di mulai sejak dini (0-6 tahun). Di mana anak mulai bisa berbicara, mendengar, menulis, dan menyimak banyak hal. Anak akan merekam audio visual melalui indra yang dimilikinya. Di sinilah peran orangtua sebagai role model yang akan dicontoh anak, salah satunya kebiasaan membaca. 

Membaca nyaring bersama, satu alternatif terbaik melatih anak dalam membaca. Anak akan paham bahasa lisan, cara pengucapan huruf dan kosakata baru saat orangtua bercerita. Namun masalahnya, bacaan seperti apa yang bisa diserap anak usia dini? Salah satunya membaca nyaring dengan metode dongeng.

APA ITU DONGENG?

Berbicara tentang dongeng, mungkin tidak asing lagi bagi orangtua. Beberapa anak bahkan tumbuh dengan dongeng yang dilantunkan ibu, nenek atau pengasuh mereka. Berbaring sambil mendengarkan cerita, dan membawa dirinya ke alam fantasi dengan sejuta kesan di dalamnya

Tidak ada yang tahu pasti siapa pencetus dongeng pertama kalinya. Namun ahli sejarah mengatakan, bahwa dongeng sudah ada pada zaman nenek moyang sekitar abad 16 dan 17. Kemudian dongeng diceritakan turun temurun, dari generasi ke generasi secara verbal hingga sekarang.

Dongeng merupakan satu sarana pendidikan karakter yang dampaknya sudah dirasakan sejak zaman dahulu. Bersyukur kita punya nenek moyang yang suka mendongeng, yang secara tak langsung banyak orang mengenal cerita khayalan yang menyisipkan unsur pendidikan, hingga bisa mengasah imajinasi anak, alat pembuka cakrawala dan mencerdaskan anak dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya.

"Dongeng adalah cerita khayalan yang mengandung unsur positif dengan tujuan menghibur."

Banyak dongeng yang sering didengar anak, baik dongeng yang diceritakan di rumah, atau di sekolah saat guru menerangkan pelajaran. Di Indonesia sendiri banyak cerita dongeng dari berbagai daerah yang bisa dibaca anak. Karena sejatinya, dongeng banyak membawa pesan moral sebagai media untuk mendidik anak membentuk karakter positif.

Ada beberapa dongeng yang terkenal di Indonesia, seperti Malin Kundang Anak Durhaka, Legenda Sangkuring, dongeng Kancil dan Buaya, Keong Mas, Bawang Merah dan Bawang Putih, Timun Mas dan masih banyak lainnya.

Si kecil paling suka membaca dongeng dengan cerita fabel. Ada juga beberapa cerita legenda yang disukai anak saya. Cara saya menyampaikan cerita pun tidak bertele-tele. Harus disertai ekspresi muka dan suara yang dibuat mengikuti karakter tokoh. Si kecil pun merasa senang dan bisa ikut masuk ke dalam alur cerita sesuai dengan imajinasinya.



MENGENAL JENIS DONGENG

Dongeng tidak hanya ada di Indonesia saja, di negara lain, dongeng hadir dengan cerita yang hampir sama, namun beda versi. Seperti Cinderella dengan sepatu kacanya, Aladdin dengan Lampu Ajaib, Putri Salju, Pinokio yang berhidung panjang dan lain sebagainya.

Beda cerita, beda jenisnya. Di bawah ini ada beberapa jenis dongeng, untuk membuka ingatan kita tentang cerita masa lalu, yang masih diceritakan hingga sekarang.  

1. FABEL,  cerita tentang kehidupan hewan yang berprilaku layaknya manusia, seperti si kancil dan buaya.

2. HIKAYAT,  cerita sejarah yang menceritakan keberanian, kesaktian, kepahlawanan, seperti hikayat Hangtuah dan hikayat Putri Kemuning.

3. LEGENDA,   dongeng yang menceritakan asal mula suatu tempat, seperti Asal Mula Rawa Pening dan Legenda Danau Toba.

4. MITE,  bercerita tentang para dewa dan mitos yang berkembang di masyarakat. Contohnya Dewi Sri dan Nyi Roro Kidul.

5. DONGENG ORANG PANDIR,   dongeng yang bersifat humor yang bercerita tentang pengalaman lucu dan jenaka, seperti cerita Abu Nawas.

Dari sekian banyak jenis dongeng, tentu ada dongeng-dongeng tertentu yang ingin dibaca oleh anak. Untungnya ada Aplikasi Let's Read yang memudahkan anak se Asia, membaca cerita dengan akses mudah.

Membaca Myaring
membaca bersama let's read


MENGENAL APLIKASI LET'S READ

Aplikasi Let's Read adalah sebuah platform Perpustakaan Digital Cerita Anak yang menulis, menerjemahkan, dan mendistribusikan buku bergambar tentang masalah hidup nyata kepada anak-anak untuk dibaca kapan pun, di mana pun, dalam bahasa yang mereka gunakan di rumah dan sekolah.

Let's Read diprakarsai oleh program "Books for Asia", The Asia Foundation, sebagai fasilitator yang bertujuan menumbuhkan kecintaan para pembaca cilik di Asia dan mencapai kesetaraan bagi anak untuk mengakses pendidikan yang berkualitas.

Let's Read menghadirkan buku yang mengeksplorasi topik pelestarian lingkungan, keragaman, toleransi, kesetaraan gender, dan STEM (Science Technology Engineering Math). Beragam tema memikat hadir di dalamnya. Variasi bahasa, pilihan membaca sesuai tingkatan, menjadi ciri khas tampilan Let's Read, hingga bisa menimbulkan imajinasi anak mengelilingi dunia, melalui cerita. 

Penasaran, yuk unduh aplikasinya di sini.

Keistimewaan membaca cerita di aplikasi Let's Read, sebagai berikut :

1. Cerita Bergambar

Biasanya fokus anak melihat sebuah buku, cenderung melihat gambar terlebih dahulu, barulah kemudian tertarik isi cerita. Meski buku fisik juga menampilkan gambar dan warna, pada aplikasi Let's Read, tampilan gambar lebih memikat, hingga anak bisa menafsirkan dan mengingat isi buku cerita tersebut.

2. Multibahasa

Aplikasi Let's Read yang mencangkup Asia, melahirkan buku cerita multibahasa. Bahasa di Asia dan juga bahasa daerah di Indonesia, seperti Sunda, Minang, Jawa, Batak Toba, dan Bali. Keuntungannya, anak bisa menambah pengetahuan cerita lintas negara, negeri sendiri, hingga menambah wawasan dan kosakata anak. 

3. Ada Label 

Asyiknya di App Let's Read, anak bisa memilih cerita yang disukai pada label yang tersedia. Anak bisa membaca cerita dengan label Superhero, Animal, Art and Music, Nature dan lain sebagainya. Pasti seru.

4. Gambar dan Teks Bisa di Perbesar

Kelemahan buku fisik salah satunya anak kesulitan bila membaca tulisan kecil. Di App Let's Read, gambar dan huruf bisa diperbesar sesui ukuran yang tersedia. Selain diperbesar, gambar bisa digeser ke kanan dan ke kiri sesuai yang diinginkan.

5. Buku Bisa Di Unduh, di Baca Offline

Setiap buku bisa diunduh dan dicetak untuk dibaca ulang. Nah, di Let's Read, cerita juga bisa diunduh untuk bisa dibaca offline. Anak bisa membaca ulang, membaca bersama teman dan sahabat, tanpa ribet data paket yang membebani.

6. Nama di "Balik Layar"

Membaca, bukan berarti abai siapa penulisnya. Kita patut bersyukur kepada pengarang cerita, yang menghadirkan karya sastra bagus, hingga menarik minat pembaca. Nah, setiap akhir cerita di Let's Read, selalu menampilkan nama penulis asli cerita dan ilustrasinya. Diingat ya.

Asia Foundation
hak cipta di setiap cerita

Anak dan ponakan saya suka banget membaca di Aplikasi Let' Read, karena tampilan simple dan karakter gambar yang bisa masuk dalam suasana cerita, serta narasi yang tidak membosankan.

Kamu juga bisa kok, unduh aplikasinya di Google Play Store.


CERITA YANG DISUKAI ANAK & PONAKAN SAYA DI APLIKASI LET'S READ

Banyak cerita yang bisa dipilih pada aplikasi Let's Read. Konsep yang ditawarkan sangat menarik. Tampilan gambar dan isi cerita menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Beberapa judul cerita yang disukai anak dan ponakan saya pada Aplikasi Let's Read,

1. Bukan Begitu Caranya, Mehung

Cerita seekor kucing yang ingin disukai, berniat membantu, eehh..malah dimarahi.  Mereka sangat suka cerita ini, apalagi pada kalimat, "bukan begitu caranya Mehung!".

Dongeng di Let's Read


2. Moah Sahabat Yang Baik

Cerita persahabatan sapi dan burung, yang memberi  arti sahabat sesungguhnya. Rela membantu teman yang dilanda kesusahan. Di sini saya juga menjelaskan kalau nama moah berarti suara sapi saat melenguh, moaaaaahhhh..

Dongeng di Let's Read


3. Duma Juga Bisa

Duma, seekor beruang yang ingin "bisa" dengan mencoba apa yang dilakukan neneknya. Namun, badan kecilnya belum setangguh nenek yang bisa melakukan apa saja. Cerita pantang menyerah yang sangat menginspirasi.

Dongeng di Let's Read


4. Gurita Kecil Yang Rakus

Gurita kecil yang suka makan, namun berlebihan alias rakus. Perutnya selalu lapar, dan ia makan dengan banyak. Hingga akhirnya badan Nina menjadi besar dan ia tidak bisa masuk ke dalam rumah. Anak saya suka banget gambar gurita yang berwarna nyentrik.

Dongeng di Let's Read


4. Perjalanan Kumi

Bunga pada cover depan menjadi daya tarik utama Aeryn menyukainya. Ditambah lagi kehadiran gambar bunga di setiap slide nya.  Cerita ini mengangkat perjalanan Kumi bersama bulan, melihat bunga-bunga indah di belahan dunia.

Dongeng di Let's Read


5. Naik Bendi

Ini cerita yang terinspirasi dari lagu babendi bendi asal Sumatera Barat. Cerita ini, saya bacakan dengan dua versi, pertama berbahasa Indonesa, kedua saya bacakan dengan bahasa Minang. Anak saya senyum-senyum sendiri tatkala saya membacakan cerita dengan bahasa daerah, tentang Rio yang ingin menaiki bendi dan mengajak kakeknya untuk menaiki bendi di Bukittinggi.

Dongeng di Let's Read
Dongeng di Let's Read

Serunya membaca bersama anak, selain bisa mengenalkan bacaan sejak dini, juga sangat membantu menambah kosakata anak, sekaligus menumbuhkan minat bacanya.

Membaca nyaring dengan metode dongeng, banyak membawa dampak positif untuk kebaikan hidup, moral, dan sosial budaya anak. Anak akan lancar berbahasa, melafalkan kata dan huruf dengan jelas.

Mari kita budayakan membaca, khususnya, menumbuhkan daya baca anak, demi menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, agar bisa bersaing dengan bangsa lain. Karena sesungguhnya, majunya suatu bangsa, tergantung pada sumber daya manusianya. SDM yang berwawasan luas, yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Jika buku adalah gerbang dunia, maka membaca adalah kunci membukanya.

#LetsReadAsia #AyoMembaca #LetsReadxBloggerPerempuan

Info Grafis : Let's Read and Canva

9 comments:

  1. Wahhh..keren ada yg begini sekarang. Jangankan anak2 mbak, aku aja susah membaca sekarang. Baru 1 lembar mata langsung ngantuk

    ReplyDelete
  2. Wah keren nih.. Jadi banyak stok buat bacaan dan dongengin anak ya. Apalagi bisa diunduh dan dibaca offline. Menarik

    ReplyDelete
  3. Wah keren nih.. Jadi banyak stok buat bacaan dan dongengin anak ya. Apalagi bisa diunduh dan dibaca offline. Menarik

    ReplyDelete
  4. Kalo yang dibaca buku cerita yang ada gambarnya biasanya anak anak suka ni, sebab memang menarik minat mereka untuk lebih banyak tau cerita lanjutannya

    ReplyDelete
  5. Wah samaan nih sama Kakak Queen. Ziqri jg suka baca2 di Let's read. Goodluck lombanya kak Yulia

    ReplyDelete
  6. Aplikasi Let's Read ini memang juara banget ya. Qisti yang emang udah hobi baca, makin lupa waktu kalau baca cerita di Let's Read.

    ReplyDelete
  7. Bagus ini buat anak untuk isi waktu disaat durumah aja seperti ini

    ReplyDelete
  8. Anak-anak makin suka membaca ya dengan Let's Read banyak pilihan bukunya...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.