Kiat Menjaga Toleransi, Kebersamaan dalam Keberagaman

February 04, 2021 Yulia Marza 0 Comments

Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas 5.193.250 km² mencangkup daratan dan lautan, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Beragam suku bangsa, bahasa, agama, adat istiadat di 34 provinsinya, Indonesia disatukan oleh semboyan "Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu"

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang negara Garuda Pancasila, merupakan landasan penting negara Indonesia. Kalimat yang dikutip dari buku Sutasoma karangan Mpu Tantular ini, menyatukan keberagaman Indonesia dalam ikatan yang kuat, agar tetap harmonis, selaras, demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa.

Hidup dalam negara multikultural tidaklah mudah. Konflik antar kelompok masyarakat sering bermunculan. Isu-isu negatif kerap digaungkan beberapa oknum, baik secara langsung maupun tak langsung, guna memecah belah persatuan bangsa. Sayangnya, info negatif lebih mudah diserap dibanding informasi positif. Bila tidak disikapi dengan bijak, tindakan oknum yang memicu manifestasi konflik tersebut, akan berdampak pada stabilitas keamanan, sosio-ekonomi, dan ketidakharmonisan sosial. 

Harusnya kita sadar, perbedaan di tengah keberagaman ibarat mozaik yang harus ditata menjadi satu kesatuan utuh. Perlu rasa toleransi dan tenggang rasa yang tinggi, agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat. Setiap elemen harus bekerja sama, bergandengan tangan, dan hidup berdampingan tanpa membedakan suku, agama, hingga rasa aman dan tentram tercipta di tengah perbedaan.

Bukankah sejarah mengatakan dulunya bangsa Indonesia bersatu padu melawan penjajah tanpa membedakan ras, suku dan agama tertentu? Lantas mengapa sekarang konflik muncul mengatasnamakan kelompok mayoritas dan minoritas? Tidakkah mereka tau bahwa ciri khas Indonesia itu ada pada keberagaman yang membuat mereka bersatu meraih cita-cita bersama?

Toleransi dalam keberagaman, sangat penting ditanamkan terus menerus kepada generasi bangsa. Mengingat sejak jaman nenek moyang kita dahulu, toleransi telah berjalan tanpa melanggar norma sosial dan mengikat kelompok masyarakat, tanpa melihat asal usul, ras dan agama yang menaunginya. Semua kelompok masyarakat hendaknya kembali ke nilai dan karakter utama bangsa dalam kehidupannya, yaitu religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan berintegritas.

Dengan keberagaman  membuat kita saling mengenal dan tahu kekayaan budaya Indonesia, semakin kita paham, semakin tumbuh cinta pada tanah air Indonesia. 

Nah, bagaimana mewujudkan kebersamaan dan toleransi dalam keberagaman di segala lini kehidupan? 

SIKAP TOLERANSI, KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN

Seperti yang kita tahu, sikap toleransi dalam keberagaman akan memunculkan sikap kebersamaan tanpa embel-embel di belakangnya. Nilai dan karakter bersama dalam keberagaman harus ditanamkan sejak dini, agar terbiasa dengan perbedaan dan menerapkannya pada lingkungan masyarakat. 

Tentunya pertama, kita harus paham apa itu toleransi, keberagaman dan kebersamaan. Bagaimana mewujudkan aspek di atas pada lingkungan masyarakat seperti lingkungan tempat tinggal, sekolah dan tempat kerja.

Toleransi dalam keberagaman


Di LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Saya tumbuh dan besar di kota dengan tidak hanya satu suku saja yang mendiaminya. Saya yang bersuku Minang, memiliki tetangga yang bersuku Batak, Jawa, Sunda, Cina, dan Nias. Kami saling menghormati perbedaan itu. Saya tetap bermain dengan teman yang berbeda suku dan agama. Mereka pun menggunakan bahasa kami sehari hari, tanpa ada paksaan kata "harus". 

Bila ada perayaan hari besar agama, kami tetap menghormati dan tidak mengganggu ibadah agama mereka. Toleransi tetap kami pegang teguh. Tidak ada saling mengejek, menjatuhkan, apalagi pemaksaan harus ikut sama dengan golongan tertentu.

Semua sempunyai hak dan kewajiban yang sama di lingkungan. Tingkah laku dan perbuatan berjalan sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Apabila ada silang pendapat, semua diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat.

Sebenarnya, hidup di lingkungan dengan beberapa suku, akan berdampak baik jika kita saling menghormati dan tidak melampaui batas. Baberapa keuntungan hidup dengan tetangga yang beda suku, adat dan budaya yang bisa saya ambil antara lain :

Bisa mengenal lebih dekat masakan dan makanan khas dari suku tersebut, ada juga busana tradisional mereka saat prosesi adat perkawinan, kematian. Seperti contoh, saat prosesi pernikahan adat Batak, mereka memakaikan ulos. Adat Jawa dan Sunda sebelum nikah adanya proses siraman dan lain sebagainya.

Di LINGKUNGAN SEKOLAH

Ketika masih duduk di bangku sekolah, teman dan guru juga datang dari kalangan berbeda suku dan agama. Teman satu kelas bermarga Siahaan, Guru PMP ibu Sinaga dan Joko asli Jawa Tengah. Saya tetap bermain, meminjamkan alat tulis, belajar bersama ketika masih satu kelas.

Karena bagi saya, perbedaan bukanlah alasan untuk saling membenci. Selagi berjalan di rel yang seharusnya, justru akan tercipta rasa menghargai dan menghormati 

Setelah lulus pun, kami tetap berinteraksi via grup WA, menjalin silaturahmi sambil mengingat momen mengesankan dan lucu saat sekolah dulu.

Di TEMPAT KERJA

Saat ini saya bekerja di kota yang hampir sepertiga penduduknya adalah pendatang. Walau suku asli di sini melayu, namun mereka hanya berkisar 32 persen saja.

Di lingkungan kerja malah lebih tinggi tingkat keberagamannya. Suku Sunda, Jawa, Batak, Aceh, Bali, Melayu, Ende bersatu meraup rupiah di perantauan. 

Kami saling menghargai, bertoleransi dalam ikatan persaudaraan. Bila ada kegiatan perusahaan, kami akan melibatkan semua elemen kantor tanpa memandang suku, agama dan bahasa. Kongkow di luar jam kerja, ayoklah. Gak ada istilah siapa gue, siapa elu. Selagi tidak mencampuri hal sensitive, sok atuh.

Perbedaan budaya, ras, agama dan bahasa justru menambah pengetahuan secara eksplisit bahwa yang diketahui melalui buku dan media, kadang berbanding terbalik dengan actual di lapangan. Makanya ada istilah tak kenal maka tak sayang. Tak tahu maka bertanya, yang seakan menjadi acuan bahwa dalam keberagaman, hendaknya kita mengenal lebih dekat dan bertoleransi hingga kesalahpahaman bisa di minimalisir.

toleransi di tengah keberagaman


Di balik sikap toleransi dalam keberagaman, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam menjaga dan merawat toleransi, kebersamaan dalam keberagaman. Salah satunya dengan pendidikan. Sejatinya mereka yang berpendidikan, baik formal maupun non formal, lebih memiliki kreativitas, pengetahuan, mandiri, integritas dan pribadi yang bertanggung jawab. 

Generasi berpendidikan, diharapkan dapat bekerjasama dengan yang lain, dalam mengembangkan kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi dalam menerapkan nilai-nilai Kebhinnekan, dan memberikan penyelesaian dari konflik-konflik yang berkembang di masyarakat secara sabar, damai,  demi memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas di masyarakat.

Tugas kita sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas, tetap bisa memilih informasi yang baik, meredam isu negatif yang akan menyebabkan manifestasi konflik, dan membangun toleransi, kebersamaan dalam keberagaman, agar tetap menampilkan jati diri Indonesia sebagai negara heterogen, multikultural demi persatuan dan kesatuan bangsa

“Tugas maha besar generasi kita adalah mewariskan toleransi, bukan kekerasan”


0 komentar:

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.