Showing posts with label Shocking Birth. Show all posts

Melahirkan Sendiri Tanpa Bantuan Dokter atau Bidan


Mempunyai anak adalah satu anugrah dan salah satu  nikmat yang harus selalu disyukuri. Menikah Januari 2009, sekarang ini saya sudah dikarunia 2 orang anak. Perempuan dan laki-laki. Kalau bahasa kerennya, sepasang yah :). Yang sulung sudah kelas 1 SD sedangkan yang kecil baru berumur 4 tahun. 

Anak pertama saya perempuan bernama Queen, lengkapnya Aura Almaqueen, lahir 1 November 2009. Alhamdulillah queen lahir normal dengan berat 3,1 di rumah. Ya, di rumah, lahir sendiri tanpa bantuan bidan maupun dokter. Warbiyasak memang. Bidannya datang setelah anak saya lahir untuk membantu mengeluarkan ari-ari saja. Kok bisa lahir sendiri? Baik lah, saya akan “ungkit” dan share sedikit perjuangan saya melahirkan anak pertama.

Queen usia 2 hari

Sehari sebelum lahir, kontraksi sudah di mulai tanggal 31 Oktober sesudah maghrib. Saya masih bisa lihat loh Bun, reaksi pertama saya terjadi selama 30 menit sekali, setelah itu baru 20 menit, 15, 10 dan 5 menit, selama itu saya masih bisa mencari posisi aman untuk bisa menetralisir desakan si debay. Setelah 5 menit berakhir, waktu itu saya ingat pukul 10 malam, tidak ada lagi posisi aman yang bisa dinikmati. Sakit disana sini sudah menghujam setiap persendian.

Saya dan suami akhirnya pergi ke Bidan yang kebetulan satu blok dengan rumah kami, yang hanya berjarak 5 rumah saja. Setelah di cek, Bidan Siti namanya bilang, “baru bukaan satu bu, masih lama, jalan aja dulu, paling juga siang nanti lahirnya” What? Bukaan satu, siang? Ini sakitnya aja udah naudzubillah, apalagi tunggu sampai siang. Wah, gak bisa nih, masa sakit seperti ini saya mesti nunggu satu hari lagi, guman saya dalam hati. Dari selesai cek bidan, balik ke rumah lagi, saya dan suami hanya bisa berjalan untuk mempercepat jalan si debay. Dari depan rumah, ke belakang, belok lagi ke kamar, ruang tamu, begitu seterusnya. Adakalanya saya berhenti sebentar sambil mengejan, dan tak hentinya baca shalawat nabi, surat pendek serta doa yang saya tahu.

Saya hanya mengerang “sakit” dengan suara pelan di dada suami saya. Saya tidak teriak, yang saya pikir hanya akan menguras tenaga saya nantinya. Saya terus berjalan sepanjang malam hingga subuh. Sesekali ke toilet, karena proses mau melahirkan berasa seperti orang mau buang air besar. Untuk duduk pun tidak ada posisi yang mengenakan. Singkat cerita, setelah kultum subuh berakhir, karena rumah kami pas di depan masjid, minggu jam 6 pagi anak saya lahir sendiri. Itupun sebelumnya suami mengajak saya balik ke bidan awal periksa tadi, karena saya merasakan sesuatu sudah mengganjal di antara paha saya, dan ternyata itu kepala anak kami. Baru 3 langkah saya berjalan, anak saya sudah jatuh terlentang di atas kasur dengan sendirinya. Kaget, so pasti. Saya dan suami yang tidak tahu apa-apa, hanya terpana beberapa detik, karena memang semua tidak kami bayangkan, semua di luar ekpektasi saya dan suami. Saya hanya terduduk di ujung tempat tidur (kami tidak memakai ranjang saat itu), sambil memandangi anak saya yang sudah menangis. Saya tidak bisa bergerak, karena tali pusar yang menghubungkan saya dan debay belum dipotong. Saya pun takut terjadi apa-apa. Kakak sayalah yang menyelimuti debay sambil menunggu bidan datang. Akhirnya bidan datang, bawa gunting, timbangan dan segala peralatan untuk membantu mengeluarkan ari-ari dalam perut saya. Daaaann.. Proses persalinan pun selesai.

Hufft..pengalaman yang historis banget menurut saya. Setelah 7 tahun lebih berlalu, bayangan itu selalu terlintas saat ada teman yang melahirkan. Adakah bunda yang pernah mengalami anak yang lahir sendiri seperti saya? Menegangkan, dan rasanya seperti mimpi lo Bun. Antara percaya dan nggak, tapi ini memang kenyataan yang ada di depan mata saya dan suami. Etapi, ketika saya menghadapi sakit yang luar biasa ini, saya masih sadar kok Bun, saya hanya berpasrah diri sama Yang Maha Pencipta dan kun fayakun aja.

Segala capek dan letih saya  “menghabiskan malam” berdua, semua terhapuskan saat melihat wajah debay yang mungil banget. Lengkap sudah perjuangan saya sebagai seorang ibu. Dapat melahirkan normal itu, suatu banget, walau sakitnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Perih.

Apa aja sih yang saya ingat saat momen menegangkan itu berlangsung?

Panik gak sih? 
Tentu saja saya panik. Sakit yang luar biasa dan harus lahir siang, siapa yang gak panik? Bagaimana kalau anak saya terminum air ketuban? Wah pokoknya, yang namanya mau melahirkan, apalagi anak pertama yang belum tau apa-apa, panik dan cemas pasti. Tapi saya kok bawainnya rileks aja ya? Karena saya lebih yakin dan percaya saja dalam hati kepada Dzat yang Maha Pencipta, semua berlangsung atas izinya bukan?

Apa saya tidak berteriak seperti Bunda yang lain? 
Tidak. saya hanya mengerang kecil di dada dan perut suami saya. Karena saya pikir berteriak hanya akan menguras energi saya nantinya. Saat desakan debay semakin kuat saya mengejan sambil jongkok. Ya, saya dalam posisi jongkok. Dan saya sadar, saya mengarahkannya ke jalan lahir bayi, bukan ke arah (maaf) anus. Karena saya tahu, mengarahkannya pada posisi anus akan mengeluarkan ambeian kita.

Apa saya tidak takut dengan Udem Portio / Pembengkakan pada Rahim? 
Saya gak kepikiran tuh, yang saya pikirkan saat itu bagaimana saya harus sudah mencapai bukaan 8 dan harus melahirkan secepatnya. Karena Bunda manapun tidak akan tahan terhadap sakit yang rasanya mematahkan tulang belulang. Gitu juga saya.

Apa saya tidak ada tanda melahirkan berupa pecah ketuban?
Saya tidak merasakan ketuban pecah. Tidak ada air yang meleleh diantara paha saya, seperti yang sering saya lihat di televisi. Kata orangtua saya, saya mengalami ketuban darah, jadi sakitnya warbiyasak memang.

Mengapa tidak melahirkan di Rumah Sakit saja? 
Jujur saja, saya sebetulnya kurang begitu suka dengan aroma rumah sakit. Dan klinik yang ditunjuk dari tempat saya bekerja, lumayan jauh dari rumah saya. Saya pun sudah niat lahiran nanti di Bidan tetangga saja, dekat dan tidak perlu bawa seabrek pakaian. Lagipun saat itu masih bisa di claim dari perusahaan walaupun tidak full 100%. Makanya saya memilih jalan di rumah daripada di tempat bidan itu.

Banyak Bunda yang memilih melahirkan secara Cesar (CS). Tapi bagi saya mencium aroma rumahsakit saja, saya sudah ilfil duluan. Apalagi harus menjalani operasi dengan cara dibedah. Waduh jangan deh.

Ada beberapa hal yang saya lakukan setelah kandungan saya 7 bulan lebih.

1. Mulai memperbanyak jalan.
Tau gak bun, saya jalan pagi hanya satu kali selama 9 bulan kehamilan. Bukannya malas bangun pagi, tapi berjalan bisa saya lakukan di tempat saya bekerja saja. Setiap 1 jam saya usahakan naik turun tangga. Karena perusahaan saya ada 2 lantai. Dan itu rutin saya lakukan setiap hari.

2. Menpel rumah dengan tangan.
Sepulang kerja saya pel seluruh rumah dengan menggunakan tangan saja. Menggunakan kain, dan itu saya lakukan dengan jongkok secara maju mundur. Gak ada yang kasian dengan saya. Hahaha, karena kata orangtua dulu, bagus untuk mempercepat jalan lahir. Anggap aja bener deh.

3. Mencuci pakaian dengan jongkok. Kebayang gak ya Bun, hamil besar, trus nyuci sambil jongkok? Aduh, berat memang, tapi saya rela walau berat, demi si buah hati lahir normal.

4. Minum air kelapa dan buah. Sekali seminggu saya minum air kelapa. Yang saya tau air kelapa bagus untuk membersihkan bayi dan membuang lemak yang menempel.

Tips dan pengalaman saya di atas, bisa sebagai referensi bunda yang mau melahirkan. Tapi setiap Bunda pasti beda lo bawaan hamilnya. Ada yang malas, ada yang dibawa santai aja dan kadang ada yang susah bangun sampai di opname.

Kelahiran anak pertama ini, saya cukup menikmati setiap detik yang terjadi. Tidak perlu saya jadikan beban pikiran karena saya pikir ini anak, buah cinta kasih dengan suami dan satu anugrah dan titipan dari Yang Maha Kuasa. Karena Bunda yang melahirkan normal, pasti tau rasanya saat kontraksi terjadi.

Bagi yang belum menikah, seperti dek Silviana Noerita, jangan terlalu dibayangkan ya. Dijalani saja, semua pasti ada hikmahnya.

Sekian cerita melahirkan dari saya.
See ya to the next story.