Showing posts with label Travelling. Show all posts

Drama Saat Trip ke Malaysia



Februari lalu, saya dan 5 traveler cantik, menikmati libur akhir pekan di Kuala Lumpur, Malaysia. Berawal dari ceki-ceki libur panjang pada kalender kerja, yang akhirnya berujung tuk pelesiran kesana. Kebetulan teman yang ikut kali ini, sudah sering bolak-balik ke dua negara tetangga terdekat Indonesia ini.

Gak heran sih ya, menghabiskan weekend ke negara tetangga, satu hal biasa bagi warga Batam. Bolak-balik Batam-Singapur atau Batam-Malaysia bukan lah hal aneh. Selain dekat, murah, kita pun bisa pulang di hari yang sama.

Batam-Singapura, bisa ditempuh satu jam via jalur laut dengan tiket PP Rp 280.000. Sedangkan Batam-Johor Bahru 2 jam via jalur laut dengan tiket PP Rp 400.000
Schedule yang udah klop, kami pun langsung membuat itinerary. Pentingkah Itinerary? Penting banget. Apalagi bagi seorang traveler. Selain menghemat waktu dan budget, tentu perjalanan yang akan dilewati nanti, mempunyai tujuan dan anggaran yang jelas.

Salah satunya anggaran menginap. Biasanya orang akan mencari penginapan yang aman, murah, dekat objek terkenal dan juga dekat tempat makan atau kuliner.

Etapi tergantung selera masing-masing sih. Tiap orang kan punya anggaran tersendiri saat traveling. Tinggal menyesuaikan dengan seberapa banyak isi kantong. Asal jangan mau fasilitas wah, tapi dengan harga murah. Huaaa..kalau ini mah saya juga mau.

Kalau soal penginapan, saya lebih memilih stay dekat tempat makan. Saat traveling, perut adalah nomor satu buat saya. Saya butuh energi besar tuk mengitari spot-spot keceh yang akan saya singgahi. Gak mungkin kan udah pergi jauh-jauh tiba-tiba maag kambuh?

Salah satu solusinya, saya harus stand by makanan ringan dalam tas, seperti roti, krekers dan teman-temannya. Lagian saya paling gak tega mendengar suara gemuruh perut yang minta diisi.

Suka makan=Badan gembul. Hah? Tepiskan anggapan itu. Baiklah, body saya itu kurus bak model. Meski kurus, saya tuh paaaling sering lapar. Sari pati makanan sepertinya tidak terserap maksimal oleh tubuh saya. Larinya kemana ya? Padahal saya udah check up ke dokter, dan hasilnya, saya negative cacingan.

Well, abaikan body saya yang tak seberapa ini. Kali ini saya akan membagi duka saat akan trip dari Batam-Singapura-Johor Bahru-Kuala Lumpur. Apa saja duka saya sebelum hari H sampai kembali ke Batam? Saya akan share di bawah ini.

1. Tiket Ferry PP Batam Centre-Singapura
Karena berangkat saat pulang kerja, saya memilih naik ferry ke Singapura via Batam Centre. Akhir January, teman saya sudah membeli tiket PP Batam-Singapura, Singapura-Batam. Di Batam, selain di Counter Ferry, tiket juga bisa dibeli digerai yang sudah terpercaya. Kali ini teman saya membelinya di sebuah gerai Waralaba. Sebut saja A, dengan harga promo 270.000.

Tiga hari sebelum keberangkatan, teman saya terlebih dahulu melakukan boarding pass di terminal Batam Fast, Batam Centre (kami naik ferry Batam Fast). Tiba-tiba staff ferry Batam Fast bilang, tiket sudah expired. What? Teman saya kaget? Kok bisa? Padahal sebelum beli, teman saya sudah bertanya akan masa berlaku tiket. Lagian di print out tidak dijelaskan juga masa expired tiket itu.

Setahu saya, tiket ferry Batam-Singapur itu berlaku selama 6 bulan. Jadi saya pun beranggapan sama dengan promo. Ternyata saya salah. Setelah kejadian ini, saya baru tahu, kalau tiket promo berlaku hanya dua minggu terhitung saat pertama beli.

Singkat cerita, akhirnya pihak A sendiri yang mengurus ke Ferry Batam Fast. Saya gak bertanya bal..bla..bla apa kejadiannya, yang penting tiket saya sudah di tangan. Terakhir, tentu saja saya mengucapkan terima kasih.

2. Booking Hotel
Kami booking hostel sekitar pertengahan January 2018 untuk stay di tanggal 16-18 February. Hostel ini berada di wilayah Bukit Bintang dan lumayan dekat dengan menara Petronas. Pihak hostel pun telah mengkonfirmasi, kamar available, di mana satu kamar terdiri dari 8 bed atau 4 bed tingkat.

Namun empat hari menjelang hari H, pihak hostel tiba-tiba membatalkan bookingan kami. Mereka beralasan kalau AC hostel bermasalah. Saya gak mau berspekulasi. Entah benar atau hanya pengalihan saja. Di waktu yang sempit,  pihak hostel tanpa rasa bersalah memutuskan book room kami. Kesal! Saya pun langsung menandai hostel ini, layaknya video adek seragam SMU itu.

Saya pun bergerak cepat mencari kembali tempat stay yang dekat seperti semula. Agak susah sih ya mencari hostel untuk 6 orang yang hanya ada kami saja di dalamnya. Karena bertepatan dengan libur Imlek. Rata-rata udah full book, kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan cukup tinggi. Jadi, out of  budget!

Setelah lelah membuka situs satu ke situs yang lain, akhirnya ketemu juga  tempat stay yang cukup strategis, yakni di Mercu Summer Suites. 
Mercu Summer Suites

3. Di Woodlands Check Point Singapura
Ketika saya di Woodlands Check Point Singapura, saya sempat ditegur salah satu anggota Imigrasi yang berkulit hitam, dan bertahi lalat seperti Rano Karno. Saat itu saya ditegur karena ketahuan mengambil photo ruang Imigrasi dari eskalator. Dia menghampiri saya dan berkata "Hey, you photo apa? Hapus..hapus..hapus" sambil melirik ke hape saya. Antara kaget, dan sedikit jengkel juga ama si Rano Karno KW ini. Tapi ya sudah lah, emang peraturannya seperti itu. Di maklumi aja.

4. Tiket Bus Johor-Kuala Lumpur
Berangkat di akhir pekan yang bertepatan dengan libur Imlek, saya pikir semua akan baik-baik saja, lancar seperti biasanya. Saya pikir (kebanyakan mikir juga kali) bus Johor-KL yang banyak, bakalan bisa menampung penumpang yang membludak. Atau dengan kata lain tersedia extra bus. Kali ini saya kembali salah. Kami yang sampai di Johor Bahru (JB) jam 11.15 malam, counter tiket sudah bertuliskan Sold Out!

Saya dan dua orang teman mulai cemas. Gak mungkin kan kami nginap di Larkin ini. Lelah berputar dan berkeliling, tetap tidak ada bus yang available lagi menuju KL. Hingga ada satu orang calo yang menawarkan tiket 1 orang diharga 85 RM. Omaygad, dua kali lipat, sedangkan tiket normal hanya diharga 34RM. Mau gak mau kami terpaksa membeli tiket seharga yang ditawarkan, dengan keberangkatan di jam satu dini hari.

5. Picked Pocket on MRT
Pulang dari Genting, kami menaiki MRT ke stasiun Bukit Nanas. Sebenarnya saya paling gak suka naik MRT yang berganti sesuai rute. Tapi ya sudahlah, demi teman yang ingin mencoba naik MRT, akhirnya saya setuju.

Di sore hari itu, MRT menuju bukit nanas padat merayap. Kami pun terpaksa berdesakan di atas MRT. Saya serasa berada di adegan film Kuch-Kuch Hota Hai dan Film Andy Lau zaman dulu. Yup, rupa penumpangnya beraneka ragam dan bentuk dengan bau yang lumayan kentara. Saya yang sudah lelah, mau gak mau tetap berdiri tegak dan sesekali menutup indra penciuman.


Stasiun MRT

Saat turun, teman saya Sazila yang membawa kamera canggih, lupa menutup zipper kameranya. Di dalam tas kamera tersebut, ada rupiah sebanyak satu juta dan beberapa kartu dan bon. Ternyata dompet kecilnya telah raib oleh tangan yang tak bertanggung jawab! Dia pun gak sadar sebelumnya. Saat membayar tagihan hotel untuk check in, dia baru tahu kalau dompetnya tidak berada lagi di sana.

Deg! menggigil seluruh badan. Padahal uang tersebut akan ditukar ringgit malam itu. Tapi namanya musibah, gak ada yang bisa menduga. Dia pun menangis sesunggukan. Duh kasihan. Kami pun berinisiatif memberi beberapa ringgit tuk Sazila. Walaupun tak banyak, setidaknya bisa membantu meringankan duka akibat kehilangan.

6. Ketinggalan Ferry ke Batam
Minggu pagi kami sudah bersiap-siap dari KL tuk kembali ke Singapura, selanjutnya menuju Batam. Harga tiket dari BTS (Bandar Tasik Malaysia) ke Larkin JB RM34. Kami menaiki bus merah yang ber-merk Mayang Sari. Bus cukup luas dengan kursi 2-1. Maksudnya tepi kanan dua kursi dan tepi kiri cuma satu kursi. Jadi lumayan leluasa di dalamnya.


Sampai di JB saya pun nyambung naik bus No. 170 menuju Singapura. Di sini lah masalah bermula. Kemacetan sungguh luar biasa. Padatnya kendaraan menuju Singapur dan lampu hijau yang terlalu cepat, memaksa mobil yang kami tumpangi berjalan tersendat-sendat.

Akhirnya sampai di stasiun bus Singapur sudah pukul 7.30 malam. sedangkan ferry kami ada di pukul 8.00. Kami pun berlarian menuju MRT, taksi pun sudah tak tampak lewat di depan terminal.

 Harbour Front Singapura

Di Vivo mall pun kami berlarian untuk mengejar boarding pass. Namun usaha kami sia-sia, boarding closed di 7.50. Kami pun menghempaskan nafas sekuatnya. Lemas, lunglai, dan tatapan pun pasrah. Untunglah si petugas boarding menyuruh lapor di counter Batam Fast.

Berlari menuju counter Batam Fast, berharap masih bisa berangkat sesuai tiket. Tapi si petugas bilang nggak bisa lagi. Kami pun kembali pasrah harus membeli tiket baru. Biasanya tiket one way harganya hampir sama dengan two ways. Berharap ada keajaiban. Syukur alhamdulillaah, tiket kami hanya digeser jamnya tanpa membayar sepeser pun.

Well, usai sudah penderitaan saya di  trip kali ini. Nah, dari kejadian tak terduga yang saya alami, ada beberapa tips dari saya bila menghadapi kejadian seperti ini.

1. Buat Itinerary
Ini sebagai acuan kita melangkah. Walau kadang itinerary lari dari actual. Tapi membuatnya sangatlah penting untuk mengoptimalisasi jadwal.

2. Pastikan tiket yang sudah dibeli tidak expired.
Biasanya berlaku tuk tiket promo sih ya. Tapi tidak ada salahnya juga mencek tanggal tiket agar sesuai jadwal keberangkatan.

3. Booking hotel/hostel jauh hari.
Sebaiknya booking tempat untuk stay beberapa bulan sebelum hari H. Selain murah, pilihan pun masih banyak.

4. Buat list hotel/hostel lebih dari satu.
Hal ini jarang terjadi sih, tapi ada baiknya sedia payung sebelum hujan. Jangan sampai terjadi kejadian seperti yang saya alami. Bikin panik. Setidaknya kita sudah ada next list  hotel tanpa harus mencari lagi.

5. Pisahkan Letak Uang
Ini petuah dari Almarhum Bapak saya. Bila melakukan perjalanan jauh, bagi beberapa uang dan letakan di kantong yang berbeda. Kita tak menginginkan hal buruk. Tapi bila ini menimpa kita, setidaknya kita ada persiapan.

6. Tetap waspada dengan segala properties.
Di negeri orang banyak orang baik tak sedikit juga orang yang berniat jahat. Tetap aware dengan barang pribadi sekecil apapun itu. Terutama paspor. Kata bang napi, kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah..waspadalah.

7. Naik Taksi di Keadaan Darurat
Alasan traffic Jam sering menjadi kendala utama orang ketinggalan transportasi. Naik taksi bisa mempercepat ke tempat tujuan daripada naik bus umum dengan rute memutar.

8. Simpan Alamat dan No. Telpon Kedutaan
Sebagai mengantisipasi, ada baiknya menyimpan alamat dan nomor telpon kedutaan Indonesia pada negara setempat. Sebagai antisipasi bila ada kejadian yang di luar ekspektasi.

Nah, itulah sepenggal tips dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat. See ya to the next story.



Perjalanan Malam dari Batam via Singapura, Menuju Kuala Lumpur


Akhir Desember kemarin, saya dan teman-teman sudah merencanakan untuk liburan ke Malaysia. Libur pertengahan Februari, yang bertepatan dengan libur Imlek akhir pekan, menjadi tanggal keberangkatan saya ke Kuala Lumpur. Walau hanya tiga hari, 15-18 Feb, saya dan 5 traveler cantik, mencoba tuk eksplor KL yang terkenal dengan ikon Twin Towernya itu.

Berangkat kamis sore sepulang kerja, saya menaiki ferry dari Batam Centre menuju Singapura. Jam kantor yang berakhir pukul lima petang, tidak memungkinkan saya dan teman-teman menaiki ferry Batam Centre ke Stulang Laut (Pelabuhan Laut di Johor Bahru). Last ferry Batam-Stulang Laut saja, ada di pukul 18.00WIB. Sedangkan dari kantor saya ke Batam Centre, ditempuh lebih kurang satu jam dalam kondisi normal. Jadi Batam-Stulang Laut, dicoret dari list itinerary.

BATAM CENTRE ke SINGAPURA

Sampai di Batam Centre saya tak perlu Boarding Pass lagi. Beberapa hari sebelum keberangkatan, teman saya Sazila sudah melakukan Boarding Pass di Counter ferry yang akan kami naiki, yakni Batam Fast.

Kami langsung menuju Imigrasi Check yang berada di lantai 2. Antrian menuju Singapura tidak begitu panjang. Yang terlihat malah antrian panjang Arrival Passenger.

Saya bergegas naik ke ferry yang sudah bersandar di dermaga. Syukurlah ferry yang saya naiki berangkat tepat waktu, yakni pukul 7 malam. Barisan kursi kosong berjejer rapi di depan kami duduk. Angin yang mengguncang Batam beberapa minggu belakangan, menghasilkan alun yang cukup kuat. Kapal ferry beberapa kali naik turun tak beraturan. Alhasil, teman yang tidak tahan, sempat mengalami mual dan pusing.

***

Batam ke Singapura ditempuh satu jam kurang melalui jalur laut. Kami yang berangkat pukul 7 malam Batam time, sampai di Horbour Front (Pelabuhan Laut Singapur) pukul 9 malam waktu Singapura. Dua jam memang. Karena Singapura mempunyai perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Indonesia. Jika saya berangkat pukul 19.00WIB, di Singapura tentu sudah pukul 8 malam. 

Saatnya masuk Imigrasi check. Saya sempat shock, terpana tak percaya. Imigrasi Singapura yang terkenal padat merayap, ngantri pun bisa bikin kaki gempor, hari ini cuma berdiri beberapa orang saja. Well, sesuatu banget deh, kalau malam ke negeri Singa ini. Bertepatan dengan Imlek sih ya, mungkin saja mereka pada pulang kampung dan sebagian lagi memilih liburan ke Batam


Naik MRT ke Jalan Besar

Lolos Imigrasi di Harbour Front, saya bergegas menuju stasiun MRT yang ada di ground floor Vivo Mall. Kami akan menaiki MRT ke China Town (Line Ungu). Disini posisinya interchange saja, karena kami akan ke jalur Biru untuk turun di Jalan Besar.

Sekedar informasi tuk temans yang baru ke Singapur, tidak perlu cemas dan bingung di negara ini, informasi dan petunjuk terpampang sangat jelas. Tidak ada coretan, apalagi sampah berserakan. Warganya pun sangat welcome bila kita bertanya sesuatu.



Terimal Bus Queen Street Singapura

Saya dan teman memilih ke Johor Bahru terlebih dahulu, karena bus langsung Singapur-Malaysia sudah full. Lagipula tarifnya lumayan mahal, libur Imlek bus pun laris manis.

Sebenarnya ada dua pilihan terminal menuju Johor. Di Kranji dan Jalan Besar dengan menaiki bus nomor 170 atau Causeway link. Tapi saya dan teman memilih ke Jalan Besar saja. 

Di jalan besar ini, ada terminal bus yang bernama Queen Street. Di terminal ini lah saya bersama rombongan naik bus, menuju Larkin, Johor Bahru. Banyak bus bagus yang tersedia di terminal ini, yang bisa dipilih tuk dinaiki. 

Saat kami tiba di Queen Street, bus berwarna kuning terang bertuliskan Causeway link akan segera berangkat. Dari casing luar bus, dah  kinclong banget, ternyata, dalamnya gak jauh beda dari luarnya. Bersih, nyaman, deretan kursi empuk dan AC yang kenceng banget.

Saya segera berlari membeli tiket dengan harga $3.2 di loket yang menurut saya sederhana  sekali. Tidak ada calo atau preman yang menarik-narik penumpang. Disini kami diberi tiket bus, yang selanjutnya tiket ini menjadi bukti sah menuju Larkin, JB. Tiket jangan sampai hilang ya, kalau hilang, mungkin harus bayar dengan uang cas atau kartu EZ Link.

Bus dari Terminal Queen Street ini akan berhenti di Woodland Check Point Singapur dan Malaysia. Karena saya kan meninggalkan Singapura dan masuk ke Malaysia. Sama seperti Batam, antrian tidak terlalu ramai, hanya 10 menit menunggu, saya sudah dapat giliran stamp paspor.

Kemana Saya Setelah Stamp Paspor?
Selesai stamp paspor, saya bergegas turun ke bawah tempat bus yang telah menunggu. Syukurlah saya menaiki bus yang sama dengan yang dinaiki tadi. Jika terlambat, saya harus menunggu bus yang ber-merk sama setelahnya.

Untuk info nih buat man teman yang mau ke Malaysia via Singapur, jadwal bus selalu on time. Penuh atau tidak mereka tetap berangkat sesuai jadwal. Dan pada setiap area tunggu bis, ada automatic time yang memberitahukan setiap kedatangan bus berikutnya.


Menuju Larkin Johor Bahru

Bus melaju cukup tenang dijalanan aspal yang tidak begitu ramai. Posisi duduk yang tepat dibawah AC, membuat tubuh saya menggigil kedinginan. Jaket penutup kepala yang saya bawa dari rumah, cukup  membuat hangat tubuh ini selama 35 menit perjalanan.

Karena saya berangkat malam, ada beberapa item nih yang saya siapkan saat keberangkatan.
1. Tas kecil.
Usahakan membawa tas kecil/sandang, tempat meletakan paspor, dompet, hp dan benda penting lainnya.

2. Jaket.
Udara malam yang dingin, ditambah AC bus yang cukup menusuk kulit, jaket hal terbaik untuk mensiasatinya.

3. Mineral Water.
Udara dingin jangan sampai membuat dehidrasi. Tetap sediakan botol minum untuk memgantisipasi kulit dan kerongkongan kering.

4. Headset.
Bila mata tak mau terlelap, mendengarkan musik dari Hp adalah solusi terbaik.


 Johor Bahru ke Kuala Lumpur

Saya sampai di Johor Bahru pukul 11.30 malam. Mungkin ini pengalaman terburuk saya mengunjungi KL. Tiket bus udah sold out semua. Salah kami juga sih, gak booking tiket jauh hari, jadinya ya gini, tiket tinggal diharga 85RM, padahal harga normal cuma diangka 55RM. Mau tak mau kami terpaksa ambil tiket itu dan berangkat pukul 1 dini hari.

Alhamdulillaah berangkat juga gumam saya dalam hati. Saatnya tidur, biar segar esok harinya. Karena saya dan teman-teman langsung menuju Genting Highland.

Mobil yang kami tumpangi masuk BTS ( Bandar Tasik Selatan) saat azan subuh mengumandang. Antara sadar baru bangun dan hasrat ingin tidur lagi, saya harus siap-siap mengemas barang-barang agar tak tercecer di mobil.

Masuk BTS suasana layaknya Mall. Terdiri dari beberapa lantai dengan eskalator dan dan suasana riuhnya. Kami langsung mencari kamar ganti di lantai dua untuk mandi dan ganti baju. Selanjutnya kami mengisi perut di salah satu kedai nasi yang lumayan enak, biar ada tenaga untuk menuju Genting. Gimana perjalanann saya ke Genting Highland? Di artikel selanjutnya ya..

See ya to the next story.


Mengintip Hutan Singapura Melalui Forest Walk


Kali ini saya kembali menjejakan kaki ke Negera Tetangga, Singapura. Tujuan wisata terdekat yang hanya ditempuh 45 menit via jalur laut. Negeri Singa ini, memang menjadi salah satu tujuan masyarakat Batam untuk menghabiskan akhir pekan mereka. Walau hanya sekedar jalan, makan, mengunjungi saudara yang bekerja di sana, atau shopping di pusat perbelanjaan termurah.

Jangan salah sangka dulu, ini bukan gaya-gayaan sih, liburan ke luar negeri. Tapi emang cuma negara ini lah yang paling dekat dari Batam dibanding Malaysia. Gak perlu merogoh kocek terlalu dalam buat nyampe seberang. Cukup 500rb rupiah saja, kita sudah bisa mengunjungi tempat-tempat cantik dan gratis di sini.

Jenuh, salah satu alasan untuk rehat sejenak. Berkutat dengan rutinitas kerja dari Senin sampai Jumat, ditambah kerjaan rumah dan anak-anak, wajar lah ya bikin jenuh. Saatnya melenturkan syaraf-syaraf otak yang sudah mulai kusut. Sedikit alasan ke Pak Suami, akhirnya izin ke Singapur keluar juga walau hanya satu hari. Yah..gak papa la, lumayan.

Saya pergi dengan teman yang bernama Sazila. Berangkat pagi dengan ferry Batam Fast, saya mulai memasuki imigrasi Singapura yang tidak terlalu padat. Sesaat pandangan terpaku kepada sosok yang saya kenal sedang antri di lorong depan antrian saya. Ya.. itu Mr. Hira, President Direktur di tempat saya bekerja. Beliau melihat saya. Kami pun bercakap-cakap sebentar. Ternyata beliau dan istri akan pergi ke Malaysia, tapi singgah satu malam di Singapur.

Baca juga : Tempat Asyik Berbayar yang Perlu Dicoba Saat di Singapura

Lolos Imigasi, saya langsung meluncur ke tempat yang sudah kami incar. Salah satunya menuju Hutan yang terletak di Henderson Road. Hmm..mengapa ke sini? Saya terinspirasi dari cerita Mbak Dian Radiata tentang hutan ini. Boleh meluncur ya ke Blog Mbak Dee. adventurose.com

Hutan dengan Forest Walk

Saya menaiki bus menuju Alexandra Road untuk sampai Southern Ridges. Jam tiga lewat, saya sampai di halte. Rasanya udah gak sabar menaiki Alexandra Arch, jembatan cantik dengan panjang 80m. Namun sebelum menaikinya, saya melewati Hotrpark, the gardening hub. Sebuah taman yang banyak sekali dihiasi oleh bunga-bunga cantik yang menyejukan mata. Sayang saya tak sempat mengabadikannya, karena sudah gak sabar menaiki forest walk.

Di atas Hortpark ini, saya menaiki jembatan menuju rute yang akan saya lalui. Nangkring sebentar di Alexandra arch, saya cukup terkesima dengan gaya arsitektur jembatan ini, yang pastinya memukau mata setiap orang yang melaluinya. Puas di sini, semakin penasaran, seperti apa sih isi dalamnya.

Hortpark

Alexandra Arch

Berjalan di sekitar Alexandra Arch, di kiri kanan saya, sudah mulai terlihat pohon kayu dengan beraneka ragam bentuk dan ukuran. Saya cukup menikmati setiap pemandangan yang saya lewati. Sampai lah di Forest walk. Jalanan untuk menelusuri hutan, yang terbuat dari besi dan disusun rapi, hingga menjadi seperti walkways/gang. Forest walk ini lumayan tinggi. Jika melihat ke bawah, akan tampak tanah hutan berwarna coklat cukup jauh karena tingginya. Jangan takut untuk jatuh, forest walk ini sangat aman, karena dikiri kanan jalan juga dipasang pengaman berupa besi yang sama.

Forest walk juga dijadikan jogging track bagi warga Singapura. Ini bisa dilihat beberapa kali saya berpapasan dengan orang yang sedang berlari kecil menyusuri setiap walkways, yang membuat forest walk ini berbunyi karena hentakan sepatu mereka.

Saya terus berjalan. Dari balik pepohonan tampak gedung-gedung yang menjulang tinggi, yang berdiri kokoh, seakan menunjukan keangkuhannya. Ibaratnya hutan ditengah kota. Hingga tak terasa, sampai lah saya di sekitar pepohonan bambu yang lumayan rapat.

Hutan bambu di kiri kanan

Pose cantik with Zila di Forest Walk
Fokus pada forest walk yang berliku di belakang

Interlace, Apartement 1000 dengan model bertumpuk

Gedung-gedung yang menjulang tinggi
Setelah beberapa meter saya melewati walkways ini, saya melihat ada The Singing Forest. Dari keterangan yang saya baca, hutan ini terdapat 38 pohon yang alami yang ditanam untuk menyediakan makanan untuk serangga, dan juga sebagai penarik burung pemakan buah untuk datang ke sini.

The Singing Forest
Tak ada lelah yang saya rasakan, yang ada hanya rasa penasaran dimana forest walk ini akan berujung. Sampai di tikungan walksway ini, saya melihat tangga dan naik ke atas. Apakah itu ujungnya? Ternyata tidak, saya masih menemui jalanan yang sama. Semakin penasaran jadinya. Saya tetap terus berjalan. Hingga saya menoleh ke samping. Wajah Zila sudah menampakan raut kelelahan. Gak tega juga. Saya putuskan mencari titik untuk cepat sampai ke jalan utama. Saya hanya takut lemak tubuhnya berkurang dan dia jadi langsing seperti saya. Hehehe. Maapkeun Zil.

Tangga yang bikin penasaran
Satu jam lebih menaiki forest walk, saya rehat sejenak untuk mengambil nafas sambil meregangkan otot kaki. Sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan rumput hijau dan pepohonan dengan aneka bentuk dan ukuran. Sejuk dan cukup tertata rapi juga. Jadi segar nih mata. Coba kalau di Batam ada yang seperti ini, bakalan asyek tuh.

Setelah cukup mengambil nafas, saya melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini saya melewati Henderson Road yang mulai menurun. Dari peta yang saya lihat, kami akan sampai ke jalan utama. Ternyata benar. Pas belokan terakhir, tampak dari kejauhan hilir mudik mobil yang melintas. Lega menyeruak di dada saya. Akhirnya sampai juga di depan Telok Blangah Hill Park.

Menuju halte Henderson Road, saya dan Zila menunggu bus dengan No. 57 untuk ke Harbour Front. Lelah, capek, puas yang saya rasakan hari itu. Pukul 19.00 Singapur time saya sudah di Ferry Batam Fast tujuan Batam Centre untuk kembali ke Batam. Sedangkan teman saya, stay satu hari lagi di Hotel Boss, karena sudah janjian dengan temannya.

Walaupun satu hari, dengan jalanan yang sedikit tanjakan, cukup lah bagi emak seperti saya mengelilingi hutan Singapur dengan Forest walknya. Merasakan sensasi baru tracking di hutan setelah 22 tahun silam saya melakukan pendakian ke Gunung Marapi dan Singgalang di Padang, yang mungkin tak akan pernah terulang kembali.
Henderson Waves

Pepohonan dan rumput yang menyegarkan mata

Ku tetap berjalan mencari dirimu. Halah.

Tetap pose walau capek

Berjalan menuju Halte Henderson Road
Cerita singkat saat mengelilingi Forest Walk Singapur. Yach begitulah, seperti orang bilang, ada cerita dan moment di setiap perjalanan. Moga terinspirasi.
See ya to the next story. Bye.


Tempat Asyik Berbayar Yang Perlu dicoba Saat di Singapura


Menjelajah Singapura tetap gak ada bosan-bosannya. Negara tetangga yang berdekatan dengan Batam ini, memang menawarkan sejumlah spot-spot cantik yang bisa menarik wisatawan untuk kembali lagi ke sini. Kalau kemarin saya sudah membagi cerita tentang kunjungan saya ke tempat-tempat wisata keluarga dengan kawasan shopping murahnya. Kali ini saya akan bercerita tentang wisata lain berbayar di Singapura. Berapa aja sih dolar yang harus dikeluarkan untuk masuk ke beberapa tempat menarik di Singapura ini? Mau tau? Yuks..cekidot.
SINGAPORE FLYER
Ini adalah salah satu tempat wisata yang terdapat di 30 Raffles Avenue, yang telah beroperasi sejak Februari 2008. Berbentuk seperti lingkaran atau bisa dibilang seperti komedi putar dengan beberapa kapsul penumpang. Satu kapsul ini, bisa memuat sekitar 28 orang. Dengan ketinggian 165m, kita bisa menikmati indahnya pemandangan Marina Bay dan gedung-gedung cantik di sekitarnya. Flyer ini buka setiap hari mulai pukul 8.30 sampai 22.30 waktu Singapura. Harga tiket yang ditawarkan $33, yang menurut saya lumayan mahal sih, dengan durasi yang hanya 30 menit. Bagi temans yang mau ke sini, dan bingung mau naik apa, jasa MRT bisa menjadi pilihan, dengan turun di Promenade stasiun. Cukup berjalan kaki sedikit saja untuk sampai ke Singapore Flyer.
Ada yang unik dan menarik saat memasuki lorong untuk mencapai Flyer. Saat masuk, suasana dengan penerangan minim sudah menghampiri kita. Tapi jangan cemas, ada pantulan cahaya dari digital art yang terdapat pada setiap dinding lorong yang dilalui. Penasaran kan seperti apa? Semuanya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Welcome gate Singapore Flyer
Tiket masuk seharga $33
Miniatur Singapore Flyer
Dinding Dengan Digital Art ala pepohonan
Digital Art ala jalanan dan tempat ibadah
Lorong menuju flyer

Kapsul penumpang
View dengan gedung tinggi
View di sekitar Marina Bay Sand hotel


SINGAPORE CABLE CAR SKY NETWORK
Kalau menaiki ferry saat ke Singapura, pasti kita melihat ada kapsul yang berjalan di atas sebuah kabel. Yup, itu adalah Cable Car. Ada 2 line yang bisa menjadi tempat pilihan naik. Yang pertama Mount Fiber Line di sekitar Faber Peak, dan yang kedua Sentosa Line di Sentosa Island. Bila naik di Mount Faber Line ini, kita bisa menikmati indahnya taman Mount Faber di sekitar station. Di sini kita bisa menjumpai Bell of Happiness, Patung the Merlions, Rain Tree yang telah ditanam dari tahun 1971, Golden Bell Mansion, generasi kabin penumpang yang dibuat dari awal berdiri tahun 1974, dan banyak lagi yang lainnya. Buka setiap hari mulai  pukul 08.45 sampai 22.00.
Harga tiket :
Mount Faber Line:  Dewasa $29 Anak-anak : $18,
di Sentosa Line : Dewasa $13 Anak-anak : $8
Di Sentosa ini lebih murah karena banyak station yang tersedia yang bisa menjadi pilihan. Namun bila menaiki Cable car di atas jam 6 sore, harga berubah menjadi setengahnya.

Salah satu sudut di Faber Peak

Gambar kapsul penumpang dari tahun ke tahun

Bell of Happiness


SINGAPORE RIVER CRUISE
Kalau ingin melihat kota Singapura dari ketinggian, ada Singapore Cable Car dan Flyer. Yang ingin menikmatinya melalui sungai sambil ditemani semilir angin sejuk, Singapore River Cruise bisa menjadi pilihan. Singapore River Cruise ini adalah electric bumboat /semacam kapal kecil yang ada mesin dengan cap pelindung di atasnya. Selama 20 menit, kita bisa menyaksikan pemandangan yang begitu menyegarkan mata. Air sungai yang jernih dan bersih, serta penampakan gedung-gedung yang menjulang tinggi di sepanjang perjalanan. Objek wisata ini, buka setiap hari pada pukul  9 pagi, dan tutup pada pukul 11 malam, dengan keberangkatan terakhir pukul 10.30 malam waktu Singapura. Bagi yang mau menaiki River Cruise ini, bisa memilih beberapa pelabuhan boat yang tersedia, antara lain di : Esplanade, Merlion Park, Bayfront South, Promenade, Boat Quay, Fullerton, Read Bridge dan Clarke Quay. Tiket bisa dibeli di counter sekitar pelabuhan dengan biaya $25 untuk dewasa dan $15 untuk anak-anak.

Counter loket Singapore River Cruise

Tiket  seharaga $25

Marina tempat bersandar kapal, view malam di Clarke Quay
View malam saat menaiki River Cruise

View malam di sekitar Marina Bay Sand
View Marina Bay Sand di siang hari

BUNGY 
Wahana ini berada di sekitar Clarke Quay. Biasanya bungy yang kita kenal dengan mengikatkan tali pada kaki, lalu melompat ke bawah tempat yang curam. Disini permainan bungy dengan menggunakan semacam kapsul, ada tempat duduk dan tali pengaman. Wahana permainan yang membuat perut turun naik ini, hanya bisa di isi maximal 4 orang. Buka mulai jam 2 siang sampai malam. Harga tiket biasa $45, dan untuk pelajar $35.

Tiket bungy

wahana Bungy

Counter tiket


FILM GARDE CINEPLEX
Mau menikmati sensasi nonton film di Singapore? Cineplex Garde Film tempatnya. Ini adalah sebuah bioskop yang berada di Bugis Junction. Tapi yang namanya bioskop, di mana-mana tetap sama sih, gak jauh-jauh dari susunan kursi dan layar yang besar. Garde Cineplex ini tidak jauh dari masjid Sultan. Bila naik MRT, cukup turun di Bayfront dan berjalan kaki menuju Bugis. Tiket bisa di beli seharga $13.

Bioskop Garde Cineplex



Tiket $13

Gimana..keren kan, setidaknya bila mau ke Singapura, kita sudah ada sedikit referensi tempat keceh yang bisa dinikmati bareng, keluarga, teman ataupun pacar. Saya jadi punya imajinasi di kepala nih, seandainya saja, saya bisa mengunjungi salah satu kota di Eropa, seperti Bang Ahmadi Sultan, yang sukses mengelilingi Eropa seorang diri? Eh, seorang diri ya bang? Gak bawa ayang bebeb kan?

Sekian dulu cerita dari saya.
See ya to the next story.

Some of photo took by Sazila


Tempat Menarik Yang Wajib dikunjungi di Singapura


Hai man teman, saya mau membagi cerita lagi nih. Kalo cerita lalu, saya share tentang tips saat ke Singapura. Kali ini saya akan mengulas tentang spot-spot cantik yang wajib dikunjungi di negeri Melayu ini. Kota yang terkenal akan kebersihan dan keindahannya, walau masih ada satu dua sampah sih, hihi.

Baca : Tips Cantik dan Aman Melancong ke Singapura via Batam

Baiklah, saya akan mulai saja. Setelah lolos imigrasi, saya dan teman-teman, langsung mengabadikan dengan berselfie  dan wefie di area Singapura Cruise Centre. Puas berfoto, segera tarik nafas panjang dan bersiap-siap melanglang buana dengan berjalan kaki.

Berjalan kaki hanya untuk mencapai tempat tujuan aja ya. Secara kami akan naik MRT untuk mencapai tempat tersebut. Sebagai info aja nih. Bagi man teman yang mau naik MRT Sebaiknya beli EZ link aja, semacam kartu by pass untuk menaikinya. Kartu bisa dibeli di counter yang tersedia di dekat gatepass.

Naik kelantai tiga check in last ferry di Mall VivoCity, perjalanan pertama ke Sentosa Merlion Square. Setelah Sentosa, kami menuju Rafless, Masjid Sultan, Bugis Junction, China Town, Orchard Road, melepaskan lelah di Marina Gardens by the Bay dan terakhir tentu saja jeprat-jepret di Marina Bay Sands. Apa aja dan ngapain aja saya di sana?  Saya akan bahas satu persatu di bawah ini.
                                               
Tempat yang bikin betah dan asyik untuk berlama-lama. Dan menurut saya, memang wajib untuk dikunjungi di Singapura ini. Hope, bisa referansi juga bagi man teman ya, yang ingin berkelana ke negeri singa ini.

1. VIVO CITY. 
Ini adalah salah satu Mall terbesar di Singapura, dengan segala isi mewahnya. Terletak satu lokasi dengan Singapore Cruise Centre/ Pelabuhan Harbour front. Namanya juga mall, pasti gak beda jauh dengan yang ada di Indonesia (Jakarta). Terdapat banyak butik terkenal dengan brand mewahnya. Cuma bedanya, semua benda yang terpajang dan segala pernak-perniknya, pastinya berbau dollaaar. Bagi yang berminat shopping di sini, ada diskon juga kok di beberapa counter butik.

2. SENTOSA MERLION
Kesan pertama memasuki tempat ini adalah nyaman, asyik, bersih, indah, dan luas. Taman bermain keluarga yang benar-benar dibuat senyaman mungkin. Bisa dicapai dengan berjalan kaki atau bisa juga naik monorail. Naik monorail, berarti harus membeli tiket seharga 3.5 dollar, yang bisa dibeli di counter yang berada di dekat pintu masuk. Tapi saya memilih berjalan kaki saja, sembari menikmati pemandangan indah di luar VivoCity. Berjalan kaki emang pegal dan capek, tapi sangat sayang harus kehilangan spot-spot cantik yang bisa kita nikmati untuk berselfie ria.

Selama perjalanan saya bisa temui  Cycling track, Rock Garden dengan escalator, sungai dengan cable Car yang menggantung di atasnya. Cave dengan stalagtit, Trick Eye Museum.

Cycling Track Sentosa

View cantik menuju Sentosa

Rock Garden dengan escalator

Danau buatan menuju Sentosa



Cave

Dan akhirnya sampai ke Universal Studio, Candilicious (pohon yang tergantung imitasi candy), Hard Rock Café, Merlion Magic Light dan patung singa yang besar yang terletak di tempat yang lumayan tinggi. Masih banyak lagi tempat cantik yang bisa kita nikmati di Sentosa Merlion ini.
Sukanya : beberapa jalan yang kita lewati terlindung oleh transparant roof, jadi gak terlalu panas

Universal studio
Pohon candilicious

Hard Rock Cafe

Toko- toko yang bersebelahan dengan Hard rock cafe

Transparant roof yang melindungi dari panas

Sentosa Merlion

3. RAFFLES ROAD.
Puas di Sentosa Merlion, kami segera menuju ke Rafless Road. Sepanjang perjalanan, kita temui gedung-gedung yang menjulang tinggi, dan setiap sudut jalan dilengkapi oleh CCTV. Patung ikan berkepala singa, yang juga menjadi icon negara ini, adalah tempat wajib untuk berselfie ria. Selain itu view cantik seperti Art Science Museum, gedung-gedung yang menjulang tinggi, serta Marina Bay Sands, bisa menjadi alternatif lain untuk foto kece dengan latar yang berbeda. Semuanya sangat sayang untuk dilewatkan. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, semuanya amazing.
Puas berselfie, tak terasa matahari sudah sampai di atas kepala, pertanda waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Saatnya menghentikan gemuruh perut yang sudah berbunyi sedari tadi. Menuju masjid Sultan dan makan siang bersama.
View gedung tinggi
Alternatif view yang bisa jadi pilihan

4. MASJID SULTAN
Shalat dan makan. Masjid Sultan ini lumayan besar dengan dua lantai dan saaangat sejuk. Lantai bawah untuk jamaah laki-laki dan lantai atas untuk jamaah perempuan. Tempat wudhu ada di bagian kanan kiri masjid. Asal tau aja ni man teman, tidak hanya yang muslim saja yang bisa masuk ke area masjid ini, tapi non muslim pun diperbolehkan melihat-lihat sekitar. Tapi tidak boleh melewati batas aman, atau gerbang batas untuk sholat.

Masjid Sultan dan batas non muslim
Bagaimana dengan tempat makan? Tenang..Di sekitar area masjid, banyak terdapat kedai nasi yang menjual makanan halal dari berbagai negara. Mulai dari masakan Padang, Malaysia, Arab, India dsb. Sebenarnya kami mau mencicipi masakan lokal, namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami makan nasi Briani dan Nasi Goreng Seafood saja. Untuk satu porsi nasi goreng Seafood $7 dan Nasi Briani $6,5. Minumnya tak jauh-jauh dari teh es manis seharga $3.

Tempat makan sekitar Masjid Sultan

Nasi Briani

5BUGIS JUNCTION.
Mau shopping? Salah satu tempat yang bisa man teman pilih untuk menghabiskan dolar yang tersisa adalah Bugis Junction atau biasa di singkat Bugis saja. Tempat ini bisa di capai dengan berjalan kaki dari Masjid Sultan. Ramenya warga yang shopping membuat jalanan begitu padat. Hati-hati saja, jangan sampai terpisah. Sebaiknya tunjuk satu tempat yang disepakati, apabila kemungkinan buruk terpisah satu sama lain..
Di Bugis ini, banyak terdapat berbagai barang dengan harga yang lumayan miring, seperti baju anak, jam tangan dengan harga 3 $10.


Otw to Bugis


Saat shopping di Bugis

6. ORCHARD ROAD. 
Aha..saatnya ke Orchard road. Pusat butik brand mewah, seperti PRADA, Dior, LOIUS VUITTON dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya tergabung dalam satu Mall Ion Orchard  Hmmm..kami hanya bisa melihat dan menikmati aneka pajangan yang terpampang di hadapan mata. Angka-angka yang ditawarkan hanya bisa membuat kami menahan nafas, dan menelan ludah dalam-dalam. Suspicious. Bisa jebol gaji sebulan dan tabungan yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun. Hahaha..

Ion Orchard

Jalanan di depan Ion Orchard

7. CHINATOWN. 
Ini juga tempat pusat perbelanjaan dengan harga yang cukup miring. Tapi kami hanya singgah sebentar. Jeprat-jepret sambil melihat parfum dan benda-benda murah yang bisa dibeli dengan harga 4 to $10.



8. GARDENS BY THE BAY.
Untuk mencapai tempat ini, kami melewati lorong dengan kaca besar yang dihiasi flower wall pada setiap batas kaca. Uniknya, flower wall ini terdiri dari berbagai warna yang membuatnya semakin menarik. 

Gardens by the Bay ini mempunyai luas 101 hectares, yang terdiri dari 3 waterfront gardens, yakni, Bay South Garden, Bay East Garden dan yang paling luas diantara keduanya, Bay Central Garden. Di Gardens by the Bay ini, terdapat aneka pohon dan tanaman yang beraneka ragam dengan pengelompokannya. Seperti Silver Garden, India Garden, Malay Garden, The Meadow, Supertree grove, Worl of Palms Fruit & Flower dan banyak lagi yang lainnya. Tidak semuanya gratis ya, ada beberapa gardens yang mengharuskan kita merogoh kocek untuk masuk ke dalamnya. Tapi semuanya sebanding dengan apa yang akan kita dapati. Pohon dan tumbuhan, semuanya tumbuh subur, karena gardens ini di kelilingi oleh DAM yang akan terus mengairi.

Dari Garden Bay the Bay ini kita bisa melihat Marina Bay Sands Hotel, yang bisa kita capai melalui jembatan yang tersambung di atas Dam. Sekedar informasi, di depan hotel Marina Bay Sands ini, adalah trek untuk balapan F1. Puas berkeliling, kami beristirahat di area taman, sambil tak lupa jeprat-jepret.

Seperti lorong kaca menuju Gardens Bay the Bay

DAM dengan air mancurnya
Gardens by the Bay dari atas jembatan



Jalan di antara tanaman tebu, di atas jembatan ke Marina Bay Sands
            
Gimana..seru kan. Sebenarnya banyak tempat cantik dan menarik lainnya yang bisa man teman kunjungi saat berada di Singapura. Tempat kongkownya anak muda Singapura dan tempat kece lainnya. Tapi..di cerita saya selanjutnya.

See ya, to the next story