Kamis, 24 November 2016

Berbagai Tipe Orangtua Dalam Mendidik Anak


Waktu memutuskan menikah, saya berharap cepat dikaruniai momongan. Di satu sisi, karena memang saya sangat suka dengan anak-anak, satu hal lagi, karena saya menikah sudah memasuki usia yang tidak muda lagi, yakni 30 tahun. Hi..hi, bukan gak laku sih, tapi memang dulu saya yang selalu menunda untuk menikah, padahal orangtua udah nyinyir kala itu.

Satu bulan menikah, saya sudah tidak kedatangan tamu bulanan lagi. Setelah di cek, saya dinyatakan positive hamil. Alhamdulillaah..doa saya di ijabah. Senangnya luar biasa, tidak sabar menanti rahim saya membesar dan terisi oleh buah cinta kami berdua. *Rasanya terbang ke awan gak mau turun-turun deh, saking senangnya.

Tiga setengah tahun berikutnya hadir kembali buah hati saya yang kedua. Saya sudah mulai berpikir cara mendidik anak-anak saya. Saya tidak mau, anak-anak saya tumbuh sebagai anak yang cengeng, manja dan tidak mandiri. Selain saya bekali dengan pendidikan agama, perilaku akhlak juga saya terapkan sejak dini.

Sebagai orangtua, kita menginginkan anak-anaknya sukses dunia akhirat. Perilaku yang baik dan didukung dengan akhlak yang terpuji, tentu menjadi dambaan setiap orangtua. Namun, apakah semua itu datang dengan sendirinya?

Secara lahiriah, orangtua adalah lingkungan terdekat anak. Baik buruk anak adalah cerminan dari orangtua. Hmm..setelah merasakan menikah dan mempunyai anak, ternyata menjadi orangtua itu tidak semudah membalikan telapak tangan ya. Perlu trik khusus menghadapi beragam tingkah pola anak. Salah asuh sedikit saja, bisa menjadikan anak lari dari yang kita harapkan.

Tugas dan tanggung jawab yang berat, ada di pundak kita. Bukankah orangtua menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya? Seperti apakah kita akan mendidik anak-anak kita? Atau bisa dibilang, kita termasuk orantua seperti apa sih dalam mendidik anak-anak?

Nah, di bawah ini, ada beberapa tipe orangtua yang bisa kita jadikan “kaca” pada diri kita. Saya masuk yang mana sih? Yuk, kita simak.
  • ORANGTUA OTORITER.
Tipe seperti ini adalah orangtua di atas segalanya. Mereka menuntut anaknya secara berlebihan. Harus ini, harus itu, semua harus berjalan dengan sempurna dan sesuai dengan keinginan mereka. Pendapat anak-anak tidak pernah didengarkan. Orangtua seperti ini, sering membuat aturan yang tidak relevan, dan kadang di luar kemampuan sang anak. Akibatnya banyak anak yang stres, bahkan sampai (maaf) gila akibat ulah orangtua mereka sendiri. Seringnya mereka diremehkan teman-temannya membuat mereka kehilangan rasa percaya, gelisah dan tidak punya self esteem yang kuat. Orangtua otoriter banyak kita jumpai pada zaman sekarang ini. Terlalu memaksa keinginannya, sehingga anak yang jadi korban. Harus waspada ya Bun, jangan sampai kita kehilangan anak-anak, hanya karena gengsi, prestise dan lain sebagainya. Wallahuallaam.

  • ORANGTUA LEMAH. 
Lemah di sini dalam artian, tidak tegas dalam penerapan sistem. Cenderung lebih membolehkan. Orangtua seperti ini, hanya menerapkan aturan dari sisi baiknya saja, dan mengabaikan perilaku kasar dan tidak menyenangkan. Aturan yang dibuat, jauh dari yang diharapkan. Tidak konsisten, lebih banyak tidak tegaan, yang akhirnya sistem manjadi mandeg. Mereka bilang A, hanya beberapa jam saja, sudah berubah menjadi B, hanya karena anak merajuk atau menangis. Mereka berpikir, mendidik anak tidak harus dengan amarah dan tekanan. Bisa kita lihat, anak-anak yang dihasilkan lebih ke anak yang sering bergantung dengan orangtua dan banyak maunya. Bahkan lebih suka menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri.

  • ORANGTUA TIDAK KOMPAK.

Tipe seperti ini, salah satu menjadi pelindung bagi anak. Bisa saja ayah, atau Ibu. Sebagai contoh, anak melakukan kesalahan, sehingga diberi teguran oleh sang ayah. Namun, tiba-tiba ibu langsung mengambil langkah preventive dan mengeluarkan argumen untuk membela sang anak. Anak berasa punya sayap, langsung berlindung di belakang sang Ibu, dan berupaya Ibu dapat menyelamatkan nya dari sang ayah. Ini jelas suatu kesalahan. Dalam mendidik anak, tidak hanya satu belah pihak yang memegang peranan penting. Tapi kedua belah pihak harus bekerja sama mendidik dan membesarkan sang buah hati. Tapi tidak dengan cara seperti di atas. Anak akan menjadi pribadi yang pintar mencari alasan, tidak percaya diri dan bahkan cenderung menjadi anak yang cengeng. Setiap diberi teguran atas kesalahannya, dia akan selalu mencari salah satu dari orangtua sebagai sayap untuk melindungi diri.

  • ORANGTUA TEGAS DAN MENDIDIK.
Di sini orangtua lebih memberikan disiplin dan tegas dalam bertindak. Lebih realistis, serta memberikan dorongan yang positive pada anak. Tidak pernah memaksakan kehendak di luar kemampuan sang anak. Kalaupun si anak melakukan kesalahan, mereka bisa menyampaikan secara logis dan jelas. Sikap tegas di sini, lebih ke dampak positive dari sistem. Disiplin dan tanggung jawab lebih ditekankan pada anak-anak mereka. Kebanyakan anak yang dididik seperti ini, menjadi sukses, mandiri dan lebih tahan menghadapi tantangan di masa depannya. Didikan yang baik, tentu akan menghasilkan anak yang baik pula.



APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEBAGAI ORANGTUA?

  1. Terapkan sikap tegas dan disiplin, dukungan secara emosial sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak secara psikologis.
  2. Jadilah orangtua yang hangat dan supportive.
  3. Ajaklah anak bermain, jangan terlalu asyik dengan gadget dan hal-hal yang tidak penting.
  4. Jadilah pendengar yang baik, karena anak akan merasa dihargai orangtuanya.
  5. Berikanlah pujian jika perlu. Sedikit pujian dengan porsi yang pas, akan bisa mengembalikan percaya dirinya.
  6. Aturan dan batasan yang jelas tentang perilaku kasar dan buruk, membuat anak akan mengerti bagaimana cara bersikap.
Well..gimana Bun, sudah bisa sedikit "ngaca" dengan keterangan di atas? Mulai dari sekarang, benahi diri yuk, biar jadi orangtua yang sukses dalam mendidik anak. Selamat mencoba.

31 komentar:

  1. Jadi pelajaran buat saya nih mbaa , saat kelak saya mempunyai anak . Untuk bisa jadi orang tua yang baik untuk anak ku kelak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus mbak,orang tua adlah contoh dan teladan bagi anak.

      Hapus
  2. Pantas Queen dan Kenzo udah berani dan mudah berinteraksi sama orang lain ya Jeng, cerminan ortu yang sering nagajak ngobrol, bicara-bicara, dan moderat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..teh lina bisa ajah..wajar lah teh..mak nya agak sedikit bawel juga. Hehe

      Hapus
  3. Waah, saya harus belajar banyak nih cara mendidik anak

    BalasHapus
  4. Bener banget, yang paling penting bagi anak adalah teladan, contoh nyata dari orangtuanya. Children see children do.
    Nggak usah capek karena banyak omong, cukup menjadi teladan terbaik buat anak.

    Tapi itu nggak mudah. Apalagi jika dulu kita dibesarkan dengan pola asuh yang keliru. Kadangkala muncul tindakan reflek :(.

    Semoga bisa terus belajar. Makasih remindernya Mba. Salam kenal^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mbak, didikan kita dulu dengan sekarang dah jauh banget bedanya. Salam kenal juga mbak, makasih dah mampir.

      Hapus
  5. Saatnya "ngaca". Saya termasuk tipe orangtua yang mana ya? Memang harus banyak belajar, supaya bisa menjadi orangtua yang baik ya, Mbak :)

    BalasHapus
  6. Nah terkadang anak.adalah cerminan ortunya. Kalo aku sekarang mendidik anak abege ya tarik ulur deh, fleksibel, lebih menjadi sahabatnya.

    Semoga menjadi ortu yg baik buat anak2nya yaaa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus pintar dan ada trik mbak. Mendidik anak sekarang. beda ama kita dulu.

      Hapus
  7. Saya termasuk yg manakah..?

    Suka sedih kalau mendadak jadi orangtua yg moody atau mood swing.
    Sebentar begini, sebentar begitu..

    Heuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm..mendidik anak seperti nano-nano..,manis asem seger..hehe

      Hapus
  8. Aku jadi makin merasa tanggungjawab sebagai ortu emang berat ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanggung jawabnya emang berat mbak,,dunia akhirat. salah didik, kita yang kena nantinya.

      Hapus
  9. Makasih share ilmunya mba, berguna buatku

    BalasHapus
  10. kalau orang tua ku dulu tegas dan mendidik, kami semua nurut banget sama ayah ibu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak,,didikan kita dulu ama sekarang dah gak bisa diterapkan lagi.

      Hapus
  11. Sepertinya kami termasuk orang tua yang tidak kompak nih
    saya dan suami suka beda dalam memperlakukan anak
    kudu banyak belajar lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha..memang mbak..kalo dah bicara masalah gak tega, semua menjurus sama ibunya, pasti ngebelain.

      Hapus
  12. Orang tua lemah maksudnya permisif kali y mb?

    BalasHapus
  13. Hmm, semakin anak2 gede semakin tersadar kalau jadi ortu itu ga mudah. Dan bener kata mba Yuli kudu pintar2 nih jadi ortu. harus tegas tapi ga otoriter. hmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tega gak tega juga sih mbak, tapi emang kudu dilakukan..biar besarnya bisa bertanggung jawab dalam segala hal.

      Hapus
    2. Tega gak tega juga sih mbak, tapi emang kudu dilakukan..biar besarnya bisa bertanggung jawab dalam segala hal.

      Hapus
  14. anak-anak cerminan ortu ya mba, kalau ortunya sdh bebenah diri insyaAllah anak mengikuti

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak..tanggung jawab sebagai ortu mendidik, mengarahkan dan mendoakan anak-anak kita. ya kan mbak.

      Hapus
  15. Terima kaish Mba, sudah mengingatkan saya kembali :D

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.