Sensasi "Uji Nyali" Naik Kereta Gantung ke Genting Highland KL

May 12, 2018 Yulia Marza 28 Comments



Menaiki gondola, mungkin tak pernah terlintas dipikiran saya. Pertama, saya takut ketinggian. Kedua, saya udah baper duluan. Otak saya sudah mendoktrin akan bahaya buruk menaiki gondola. Gimana kalau talinya putus? Gimana kalau tabrakan dengan gondola lain? Gimana seandainya gondola berhenti di tengah-tengah, sedangkan bawahnya jurang? Gimana anak-anak saya? Gimana..gimana.. dan banyak lagi gimananya. Padahal sebagai orang beriman, kita harus percaya takdir kan yah, bahwa hidup dan mati udah ada yang nentuin. 

Tapi ya itu dia, rasa takut ketinggian yang memudarkan harapan saya untuk mencoba berselancar di awang-awang. Mengikis sedikit rasa gamang, adalah hal paling sulit bagi saya. Padahal kalau lagi ke Singapur, saya tuh  paling suka liat gondola yang melintas di atas perairan Singapura. Saya pun tak tahu sampai kapan phobia ketinggian ini akan berakhir. Padahal asyik kan ya, menikmati view bebas dari atas gondola?

Naik pesawat kok gak takut? Takut juga. Tapi di pesawat, sensasi yang dirasakan beda ketika menaiki gondola. Pesawat view lebih tertutup, sedangkan gondola view terlihat jelas dan tampak nyata.

Semua berubah tatkala saya berkunjung ke Genting Highland, yang berada di Kuala Lumpur Malaysia. Menaiki kereta gantung atau gondola yang berjalan naik menuju puncak gunung, di atas rel yang menyerupai kabel listrik, seperti saya sedang melakukan uji nyali. Apakah saya akan angkat tangan tanda menyerah? atau malah melaju sampai ke tujuan?. Yuk, simak cerita saya.

Sedikit Tentang Genting Highland
Genting highland adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa berada di ketinggian 2000m dari permukaan laut. Genting lebih dikenal sebagai Las Vegas nya Malaysia atau tempat perjudian daratan yang legal di Malaysia. Di sini juga terdapat resorts terkenal dengan nama yang sama.

Menuju Genting dibutuhkan waktu satu jam dari KL, atau bisa menaiki kereta gantung Awana Skyway (Gondola) lebih kurang 15 menit. Kereta gantung ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara.

Saya Menuju Genting
Awalnya saya tak tahu, salah satu tren mencapai Genting adalah dengan naik gondola. Bisa sih lewat jalur darat, tapi waktu yang dibutuhkan adalah satu jam. Dan itupun dengan jalanan yang berkelok-kelok, layaknya kelok 44 Maninjau, yang ada di Padang, Sumatera Barat. Sedangkan naik gondola hanya butuh 15 menit saja menuju puncak.

Waktu teman saya Sazila membeli tiket ke genting, saya belum "ngeh" kalau itu tiket Awana Skyway alias kereta gantung. Pikiran saya saat itu dia membeli tiket bus. Saya baru sadar ketika menuju antrian, kalau ternyata tiket yang dipesan itu adalah tiket menaiki kereta gantung. Deg!

Seketika rasa takut menghantui saya. Mau bilang tidak, saya sudah sampai di sini.  Mau diiyakan, rasa takut udah sampai ke ubun-ubun. Ya udah, akhirnya saya coba memberanikan diri, melawan phobia ketinggian dengan pasrah. Saya pikir, kapan lagi bisa sembuh kalau gak sekarang?

Persiapan Naik Kereta Gantung/ Gondola
Sebelum naik gondola, saya harus membeli tiket PP seharga 8RM. Tiketnya berbentuk struk dan terbagi menjadi dua. Di masing-masing tiket tersedia barcode yang akan di scan ketika memasuki ruangan gondola.

Sebaiknya pisahkan satu tiket, terserah mau yang mana, karena di tiket tidak ada tanda in/out, untuk menghindarkan tiket tertukar. Karena barcode yang sudah di scan pergi tidak bisa di scan lagi ketika kembali. Syukur kalau tiket pertama dibuang, kalau tercampur? Antisipasi dulu, biar gak macet, mengingat antrian massa yang ingin menaiki gondola ini, begitu mengurai.

tiket menaiki kereta gantung Awana Skyway

Setelah tiket di tangan, saya mulai masuk baris antrian, panjang dan memutar layaknya ular. Walaupun antrian panjang, namun semua berbaris rapi. Tidak ada desak-desakkan apalagi sampai terpikir menyerobot antrian. Kesempatan juga tuk teman yang single buat cuci mata. Upss..

Tibalah giliran saya. Walau saya tampak siap, namun sebenarnya tubuh saya gemetaran, pucat dan tangan sedingin es. Tapi saya tetap tegak dan berdoa dalam hati. Terlihat beberapa orang telah berhasil naik dan melaju menuju puncak bukit.

Gondola kosong tepat di depan saya. Bismillah, hup, saya berhasil naik yang diikuti teman saya di belakangnya. Kami berenam di dalam kereta dan setelahnya naik tiga orang pria chinesse. Total di dalam gondola jadi 9 orang.

Perlu diingat, kereta gantung/gondola ini tetap berputar pelan ketika kita akan memasukinya. Tak perlu takut terjatuh, ada pemandu kok, yang membantu saat menaikinya. Untuk satu kapsul, memuat 10 orang, dengan posisi duduk layaknya di atas angkot (baca:paha berhadapan). Namun, bila gondola belum terisi penuh, misal masih 4 atau 6 orang, pemandu akan berteriak "five persons more?" or four persons more? Sesuai kekurangannya. Kalaupun tak ada yang mengisi kekurangannya, gondola tetap melaju walau kurang dari 10 orang.

ruang menaiki gondola

gondola yang akan melaju menuju puncak gunung

Gondola yang saya naiki melaju naik keatas perbukitan. Perut saya naik turun, geli dan gamang berada di ketinggian. Saya hanya diam dan berharap kereta gantung yang saya naiki cepat sampai di tempat tujuan. Walaupun takut, saya masih bisa melihat view cantik yang ada di bawah. Ingin rasanya bergerak mengambil ponsel dan mengabadikannya. Tapi kaki terasa berat mau beringsut. Tetap fokus duduk dan berdoa dalam hati.

Setelah 8 menit melintasi bebukitan, tiba-tiba gondola berhenti seperti ruangan sama seperti yang saya naiki tadi. Saya kira sudah sampai di tujuan, ternyata Gondola kembali melaju menuju puncak yang lebih tinggi. Huaaaa...

15 menit perjalanan, akhirnya tiba juga saya di Genting Mall, tempat Gondola berputar arah. Saatnya mengacak-ngacak Genting Mall. Setelah puas, saya kembali menaiki gondola untuk menuju ke stasiun awal atau terminal Bus. Kali ini ketakutan saya sudah berkurang. Tak lupa saya abadikan poto-poto cantik dalam kamera HP.

view menuju perbukitan

view dari atas gondola




saya dan teman dalam gondola

view gedung dari atas

view hotel dari atas 

Well, itulah kesan "uji nyali" saya ketika menaiki kereta gantung/gondola. Ada yang sudah pernah coba? Jangan lupa share ya.

See ya to the next story.  

28 comments:

  1. Kayaknya mbak sering nonton Film Final Destination, jadi parno takut kecelakaan, apalagi saat ada angin kuat , jadinya goncangannya kerasa ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya koh, phobia ketinggian, kalo film mah, nonton gak masalah. tapi kalau praktek ke diri sendiri.. ngeriiii.

      Delete
  2. Ngebayangin naik gondola kayaknya memang serem banget ya mbak. Apalagi setinggi itu. Dulu waktu kecil naik di Taman Mini nggak takut malah senang karena yang dipikirkan saat itu juga senang aja punya pengalaman baru. Kalau sekarang makin banyak yang dipikirkan, takut jatuhlah, takut magok di tengah jalan. Hihihi...tapi kayaknya seru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru ajep-ajep juga. Bismillah aja sih, walu pikiran buruk selama naik godola tetap ada. hiks!

      Delete
  3. aku udah pernah nyoba kakak...asli gak bergerak didalam gondola...tangan kaki dingin..diajak selfie sama kawan, muka pun nampak ketakutan...lebih banyak memejam kan mata, saking takutnya liat kebawah, sampai turun dari gondola tak mood mau ngapa ngapain... namun sekarang aku menyesal..kalah dengan ketakutan..padahal view dari atas begitu bagus... :(

    ReplyDelete
  4. Bagus banget kak Sarah. Takutnya pas berangkat aja, Dilihat teman adem ayem aja, saya coba mengumpulkan kekuatan (ciee..kekuatan) ya udah..bismilah, akhirnya dapat view keceh.

    ReplyDelete
  5. Ini cukup ekstrim kayaknya ya kak, yang di SG agak mendingan. Pengen cobaa...

    ReplyDelete
  6. Aku malah suka banget nih berada di ketinggian. Apalagi yang gondola seperti ini. Seru bisa foto-foto kece.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh Lina mah iya, gunung aja didaki. Salut saya sama Bunda Chila ini.

      Delete
  7. Wah asyik Naik kereta gantung... Apalagi ramai2 dengan teman. Kangen juga nuansa ke genting Naik kereta gantung

    ReplyDelete
  8. Bacanya jd ikut deg2an kak.
    Berasa bgt takutnya.
    Padahal aku tdk ada masalah sm ketinggian.
    Hahahha

    ReplyDelete
  9. belum kesampaian ke genting ini
    ok lah masuk dlm whistlist
    semoga kesampaian

    ReplyDelete
  10. Jadi ingat pertama kali naik gondola itu pas ke tmii waktu masih sd. Trus pernah juga naik gondola waktu di pulau kumala samarinda. Memang rada bikin takut sih pas naiknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. WKWKWK..Iyah takut, apalagi kereta gantugn dengan rute naik. malah ajep-ajep ngeri.

      Delete
  11. Wah seru, rutenya lbh jauh dr kereta gantung di TMII ya hehehe. Satu2nya kereta gantung yang kunaikini cuma di TMII :D
    Makasih sharingnya kapan2 kalau ke Genting pengen naik jg ah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rute lebih jauh dengan sensasi yang bikin spot jantung mba. Saya malah belum pernah ke TMII. :)

      Delete
  12. Mendebarkan ya kak... Pasti asyik banget view dari kereta gantung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mendebarkan kalu yang takut ketinggian sih mba, View bagus kalu dari atas, cuman sayang kemarin agak berkabut.

      Delete
  13. Dulu ak phobia ketinggian. Skrg malah suka sm ketinggian asal dg catatan slalu didokumentasi. Haha. Memang hoby eksis anaknya. �� Keren loh mb pemandangannya, aduh, jadi pengen juga. Eh, tp naik beginian bisa mabok ga sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya gak deh mba, tapi perut ngilu sih iya. Malah yang bikin mabuk jalan dari KL menuju Genting menurut saya.

      Delete
  14. Terus sembuh ga mba phobianya?? Tantangannya top banget ini :D

    Btw, aku kira dinamakan Genting karena letaknya yang sempit klo dilihat di peta, kalo ibarat kayu kaya mau patah di bagian Genting itu, hihi, imajinasi anak SD dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum kayaknya deh mba. Eh, situasi genting bukan? hehe

      Delete
  15. Pengen banget coba ini di KL sekalian menikmati pemandangan kota nya ya. Dulu waktu kecil pernah naik ini tapi di TMIII aja hehehe. Someday harus coba sih

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.