Harga Kain Sari Murah untuk Sehari-hari

April 25, 2018 Yulia Marza 0 Comments

Poto : Bukalapak.com (pixabay)


Harga Kain Sari - India merupakan salah satu negara yang terletak di Asia Selatan yang menjadi negera terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis. Negara ini memiliki penduduk lebih dari 1,2 miliar orang yang terdiri dari berbagai kelompok etnis dan sebagian besar rakyatnya merupakan keturunan Dravida dan Indo-Arya. Orang Dravida merupakan penduduk yang sudah tinggal di India sejak zaman prasejarah. Sedangkan orang Indo-Arya merupakan penduduk yang datang pertama kali sekitar tahun 1.500 SM.

Banyak sekali yang bisa diulas tentang India tapi yang paling menarik adalah pakaian tradisional yang digunakan. Berbeda dengan negara lain, penduduk India mengenakan pakaian tradisional untuk aktivitas yang dilakukan sehari-hari. India memiliki pakaian dan cara berpakaian yang unik, berbagai macam pakaian tradisional dimiliki dan salah satunya adalah kain sari. Kain sari digunakan oleh perempuan India untuk beraktivitas sehari-hari entah untuk bekerja atau aktivitas yang lainnya. Selain itu, harga kain sari ini pun berbeda-beda sesuai dengan kualitas yang diberikan.

Harga Kain Sari Murah untuk Sehari-hari

Perempuan India memiliki berbagai macam aktivitas yang membuatnya selalu aktif bergerak. Oleh karena itu, banyak sekali perempuan India yang memilih kain sari yang dapat mendukung segala aktivitasnya. Harga kain sari yang digunakan untuk sehari-hari ini tergolong murah dan mudah ditemukan karena banyak sekali yang menjual kain sari untuk sehari-hari.

Kain sari merupakan pakaian tradisional yang terdiri dari helai kain yang tidak dijahit yang memiliki panjang antara 4 sampai 5 meter. Gaya untuk menggunakan kain sari sangat bermacam-macam dan seiring dengan berkembangnya jaman, gaya yang ada semakin bervariatif. Selain dapat digunakan untuk beragam gaya, kain sari juga memiliki berbagai macam jenis yang dapat digunakan untuk berbagai macam acara atau aktivitas yang dihadiri. Bukan hanya itu, warna dan corak yang ada pada kain sari juga sangat beragam dan menarik untuk digunakan. Namun jika hanya digunakan untuk beraktivitas sehari-hari, perempuan India memilih cara yang mudah yakni dengan melilitkan kain sari di pinggang lalu di pundak.

Untuk melakukan aktivitas sehari-hari, perempuan India memilih jenis kain sari murah untuk sehari-hari. Jenis kain sari yang biasa digunakan untuk sehari-hari memiliki harga yang murah dan nyaman digunakan. Kain sari untuk sehari-hari ini memiliki tekstur kain yang tipis dan ringan sehingga banyak diminati perempuan India.

Jenis kain sari murah untuk sehari-hari yang lainnya adalah kain sari katun. Harga kain sari katun ini juga cukup murah dan memiliki warna polos. Tapi tidak perlu khawatir akan cepat bosan memakainya karena kain sari katun ini memiliki banyak pilihan warna. Beragam pilihan warna yang tersedia dapat dipilih sesuai dengan selera pemakai. Harga kain sari katun ini sendiri berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per meternya. 

Saat ini kain sari tidak hanya bisa dilihat di India saja, karena tidak sedikit perempuan Indonesia juga memilih kain sari untuk model berbusana. Tidak sedikit artis Indonesia tampak mengenakan kain sari saat tampil di televisi, seperti Ayu Ting Ting, Iis Dahlia, Soimah, Inul Daratista, dan yang tidak kalah heboh dengan koleksi segala pernak pernik khas India adalah Fairuz A. Rafiq dan Jane Shalimar.

Fairuz A. Rafiq dan Jane Shalimar mengaku bahwa keduanya adalah penggemar fanatik India. Mereka juga mengakui bahwa sangat menggemari Shah Rukh Khan. Fairuz A. Rafiq mengatakan bahwa ia mengoleksi banyak gelang dari India asli dan selendang. Begitu juga dengan Jane Shalimar, ia rela membeli baju yang ada di salah satu film India yang sangat ia sukai.

Itulah sedikit ulasan tentang harga kain sari murah untuk sehari-hari yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.

Drama Saat Trip ke Malaysia

April 21, 2018 Yulia Marza 26 Comments



Februari lalu, saya dan 5 traveler cantik, menikmati libur akhir pekan di Kuala Lumpur, Malaysia. Berawal dari ceki-ceki libur panjang pada kalender kerja, yang akhirnya berujung tuk pelesiran kesana. Kebetulan teman yang ikut kali ini, sudah sering bolak-balik ke dua negara tetangga terdekat Indonesia ini.

Gak heran sih ya, menghabiskan weekend ke negara tetangga, satu hal biasa bagi warga Batam. Bolak-balik Batam-Singapur atau Batam-Malaysia bukan lah hal aneh. Selain dekat, murah, kita pun bisa pulang di hari yang sama.

Batam-Singapura, bisa ditempuh satu jam via jalur laut dengan tiket PP Rp 280.000. Sedangkan Batam-Johor Bahru 2 jam via jalur laut dengan tiket PP Rp 400.000
Schedule yang udah klop, kami pun langsung membuat itinerary. Pentingkah Itinerary? Penting banget. Apalagi bagi seorang traveler. Selain menghemat waktu dan budget, tentu perjalanan yang akan dilewati nanti, mempunyai tujuan dan anggaran yang jelas.

Salah satunya anggaran menginap. Biasanya orang akan mencari penginapan yang aman, murah, dekat objek terkenal dan juga dekat tempat makan atau kuliner.

Etapi tergantung selera masing-masing sih. Tiap orang kan punya anggaran tersendiri saat traveling. Tinggal menyesuaikan dengan seberapa banyak isi kantong. Asal jangan mau fasilitas wah, tapi dengan harga murah. Huaaa..kalau ini mah saya juga mau.

Kalau soal penginapan, saya lebih memilih stay dekat tempat makan. Saat traveling, perut adalah nomor satu buat saya. Saya butuh energi besar tuk mengitari spot-spot keceh yang akan saya singgahi. Gak mungkin kan udah pergi jauh-jauh tiba-tiba maag kambuh?

Salah satu solusinya, saya harus stand by makanan ringan dalam tas, seperti roti, krekers dan teman-temannya. Lagian saya paling gak tega mendengar suara gemuruh perut yang minta diisi.

Suka makan=Badan gembul. Hah? Tepiskan anggapan itu. Baiklah, body saya itu kurus bak model. Meski kurus, saya tuh paaaling sering lapar. Sari pati makanan sepertinya tidak terserap maksimal oleh tubuh saya. Larinya kemana ya? Padahal saya udah check up ke dokter, dan hasilnya, saya negative cacingan.

Well, abaikan body saya yang tak seberapa ini. Kali ini saya akan membagi duka saat akan trip dari Batam-Singapura-Johor Bahru-Kuala Lumpur. Apa saja duka saya sebelum hari H sampai kembali ke Batam? Saya akan share di bawah ini.

1. Tiket Ferry PP Batam Centre-Singapura
Karena berangkat saat pulang kerja, saya memilih naik ferry ke Singapura via Batam Centre. Akhir January, teman saya sudah membeli tiket PP Batam-Singapura, Singapura-Batam. Di Batam, selain di Counter Ferry, tiket juga bisa dibeli digerai yang sudah terpercaya. Kali ini teman saya membelinya di sebuah gerai Waralaba. Sebut saja A, dengan harga promo 270.000.

Tiga hari sebelum keberangkatan, teman saya terlebih dahulu melakukan boarding pass di terminal Batam Fast, Batam Centre (kami naik ferry Batam Fast). Tiba-tiba staff ferry Batam Fast bilang, tiket sudah expired. What? Teman saya kaget? Kok bisa? Padahal sebelum beli, teman saya sudah bertanya akan masa berlaku tiket. Lagian di print out tidak dijelaskan juga masa expired tiket itu.

Setahu saya, tiket ferry Batam-Singapur itu berlaku selama 6 bulan. Jadi saya pun beranggapan sama dengan promo. Ternyata saya salah. Setelah kejadian ini, saya baru tahu, kalau tiket promo berlaku hanya dua minggu terhitung saat pertama beli.

Singkat cerita, akhirnya pihak A sendiri yang mengurus ke Ferry Batam Fast. Saya gak bertanya bal..bla..bla apa kejadiannya, yang penting tiket saya sudah di tangan. Terakhir, tentu saja saya mengucapkan terima kasih.

2. Booking Hotel
Kami booking hostel sekitar pertengahan January 2018 untuk stay di tanggal 16-18 February. Hostel ini berada di wilayah Bukit Bintang dan lumayan dekat dengan menara Petronas. Pihak hostel pun telah mengkonfirmasi, kamar available, di mana satu kamar terdiri dari 8 bed atau 4 bed tingkat.

Namun empat hari menjelang hari H, pihak hostel tiba-tiba membatalkan bookingan kami. Mereka beralasan kalau AC hostel bermasalah. Saya gak mau berspekulasi. Entah benar atau hanya pengalihan saja. Di waktu yang sempit,  pihak hostel tanpa rasa bersalah memutuskan book room kami. Kesal! Saya pun langsung menandai hostel ini, layaknya video adek seragam SMU itu.

Saya pun bergerak cepat mencari kembali tempat stay yang dekat seperti semula. Agak susah sih ya mencari hostel untuk 6 orang yang hanya ada kami saja di dalamnya. Karena bertepatan dengan libur Imlek. Rata-rata udah full book, kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan cukup tinggi. Jadi, out of  budget!

Setelah lelah membuka situs satu ke situs yang lain, akhirnya ketemu juga  tempat stay yang cukup strategis, yakni di Mercu Summer Suites. 
Mercu Summer Suites

3. Di Woodlands Check Point Singapura
Ketika saya di Woodlands Check Point Singapura, saya sempat ditegur salah satu anggota Imigrasi yang berkulit hitam, dan bertahi lalat seperti Rano Karno. Saat itu saya ditegur karena ketahuan mengambil photo ruang Imigrasi dari eskalator. Dia menghampiri saya dan berkata "Hey, you photo apa? Hapus..hapus..hapus" sambil melirik ke hape saya. Antara kaget, dan sedikit jengkel juga ama si Rano Karno KW ini. Tapi ya sudah lah, emang peraturannya seperti itu. Di maklumi aja.

4. Tiket Bus Johor-Kuala Lumpur
Berangkat di akhir pekan yang bertepatan dengan libur Imlek, saya pikir semua akan baik-baik saja, lancar seperti biasanya. Saya pikir (kebanyakan mikir juga kali) bus Johor-KL yang banyak, bakalan bisa menampung penumpang yang membludak. Atau dengan kata lain tersedia extra bus. Kali ini saya kembali salah. Kami yang sampai di Johor Bahru (JB) jam 11.15 malam, counter tiket sudah bertuliskan Sold Out!

Saya dan dua orang teman mulai cemas. Gak mungkin kan kami nginap di Larkin ini. Lelah berputar dan berkeliling, tetap tidak ada bus yang available lagi menuju KL. Hingga ada satu orang calo yang menawarkan tiket 1 orang diharga 85 RM. Omaygad, dua kali lipat, sedangkan tiket normal hanya diharga 34RM. Mau gak mau kami terpaksa membeli tiket seharga yang ditawarkan, dengan keberangkatan di jam satu dini hari.

5. Picked Pocket on MRT
Pulang dari Genting, kami menaiki MRT ke stasiun Bukit Nanas. Sebenarnya saya paling gak suka naik MRT yang berganti sesuai rute. Tapi ya sudahlah, demi teman yang ingin mencoba naik MRT, akhirnya saya setuju.

Di sore hari itu, MRT menuju bukit nanas padat merayap. Kami pun terpaksa berdesakan di atas MRT. Saya serasa berada di adegan film Kuch-Kuch Hota Hai dan Film Andy Lau zaman dulu. Yup, rupa penumpangnya beraneka ragam dan bentuk dengan bau yang lumayan kentara. Saya yang sudah lelah, mau gak mau tetap berdiri tegak dan sesekali menutup indra penciuman.


Stasiun MRT

Saat turun, teman saya Sazila yang membawa kamera canggih, lupa menutup zipper kameranya. Di dalam tas kamera tersebut, ada rupiah sebanyak satu juta dan beberapa kartu dan bon. Ternyata dompet kecilnya telah raib oleh tangan yang tak bertanggung jawab! Dia pun gak sadar sebelumnya. Saat membayar tagihan hotel untuk check in, dia baru tahu kalau dompetnya tidak berada lagi di sana.

Deg! menggigil seluruh badan. Padahal uang tersebut akan ditukar ringgit malam itu. Tapi namanya musibah, gak ada yang bisa menduga. Dia pun menangis sesunggukan. Duh kasihan. Kami pun berinisiatif memberi beberapa ringgit tuk Sazila. Walaupun tak banyak, setidaknya bisa membantu meringankan duka akibat kehilangan.

6. Ketinggalan Ferry ke Batam
Minggu pagi kami sudah bersiap-siap dari KL tuk kembali ke Singapura, selanjutnya menuju Batam. Harga tiket dari BTS (Bandar Tasik Malaysia) ke Larkin JB RM34. Kami menaiki bus merah yang ber-merk Mayang Sari. Bus cukup luas dengan kursi 2-1. Maksudnya tepi kanan dua kursi dan tepi kiri cuma satu kursi. Jadi lumayan leluasa di dalamnya.


Sampai di JB saya pun nyambung naik bus No. 170 menuju Singapura. Di sini lah masalah bermula. Kemacetan sungguh luar biasa. Padatnya kendaraan menuju Singapur dan lampu hijau yang terlalu cepat, memaksa mobil yang kami tumpangi berjalan tersendat-sendat.

Akhirnya sampai di stasiun bus Singapur sudah pukul 7.30 malam. sedangkan ferry kami ada di pukul 8.00. Kami pun berlarian menuju MRT, taksi pun sudah tak tampak lewat di depan terminal.

 Harbour Front Singapura

Di Vivo mall pun kami berlarian untuk mengejar boarding pass. Namun usaha kami sia-sia, boarding closed di 7.50. Kami pun menghempaskan nafas sekuatnya. Lemas, lunglai, dan tatapan pun pasrah. Untunglah si petugas boarding menyuruh lapor di counter Batam Fast.

Berlari menuju counter Batam Fast, berharap masih bisa berangkat sesuai tiket. Tapi si petugas bilang nggak bisa lagi. Kami pun kembali pasrah harus membeli tiket baru. Biasanya tiket one way harganya hampir sama dengan two ways. Berharap ada keajaiban. Syukur alhamdulillaah, tiket kami hanya digeser jamnya tanpa membayar sepeser pun.

Well, usai sudah penderitaan saya di  trip kali ini. Nah, dari kejadian tak terduga yang saya alami, ada beberapa tips dari saya bila menghadapi kejadian seperti ini.

1. Buat Itinerary
Ini sebagai acuan kita melangkah. Walau kadang itinerary lari dari actual. Tapi membuatnya sangatlah penting untuk mengoptimalisasi jadwal.

2. Pastikan tiket yang sudah dibeli tidak expired.
Biasanya berlaku tuk tiket promo sih ya. Tapi tidak ada salahnya juga mencek tanggal tiket agar sesuai jadwal keberangkatan.

3. Booking hotel/hostel jauh hari.
Sebaiknya booking tempat untuk stay beberapa bulan sebelum hari H. Selain murah, pilihan pun masih banyak.

4. Buat list hotel/hostel lebih dari satu.
Hal ini jarang terjadi sih, tapi ada baiknya sedia payung sebelum hujan. Jangan sampai terjadi kejadian seperti yang saya alami. Bikin panik. Setidaknya kita sudah ada next list  hotel tanpa harus mencari lagi.

5. Pisahkan Letak Uang
Ini petuah dari Almarhum Bapak saya. Bila melakukan perjalanan jauh, bagi beberapa uang dan letakan di kantong yang berbeda. Kita tak menginginkan hal buruk. Tapi bila ini menimpa kita, setidaknya kita ada persiapan.

6. Tetap waspada dengan segala properties.
Di negeri orang banyak orang baik tak sedikit juga orang yang berniat jahat. Tetap aware dengan barang pribadi sekecil apapun itu. Terutama paspor. Kata bang napi, kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah..waspadalah.

7. Naik Taksi di Keadaan Darurat
Alasan traffic Jam sering menjadi kendala utama orang ketinggalan transportasi. Naik taksi bisa mempercepat ke tempat tujuan daripada naik bus umum dengan rute memutar.

8. Simpan Alamat dan No. Telpon Kedutaan
Sebagai mengantisipasi, ada baiknya menyimpan alamat dan nomor telpon kedutaan Indonesia pada negara setempat. Sebagai antisipasi bila ada kejadian yang di luar ekspektasi.

Nah, itulah sepenggal tips dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat. See ya to the next story.


26 komentar:

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.