Penyesalan Belum Bisa Membahagiakan Orangtua

December 12, 2018 Yulia Marza 0 Comments


"Segala yang terjadi dalam hidupku ini, adalah sebuah misteri Illahi, perihnya coban hanya ujian kehidupan" -Arie Lasso-

Kadang, saya merasakan ada hal-hal sulit dalam hidup yang enggan beranjak dalam hati. Sebagai manusia, saya masih punya sisi kelemahan yang membuat saya terpuruk hingga meninggalkan luka yang cukup dalam. Butuh tahunan untuk melupakan semua kejadian itu. Penyesalan, seakan menghantui setiap derap langkah kaki. Tapi saya coba tenang, berpasrah diri, bahwa yang terjadi dalam hidup ini, benar adanya rahasia Illahi.

Saya sadar, tak mungkin larut dalam penyesalan yang takkan ada habisnya. Saya anggap ini sebuah pembelajaran, agar saya kuat dan mempnyai energi untuk lanjut ke step berikutnya.

Namun, beranjak ke next level, bukan berarti saya melupakan beberapa hal yang saya sesali dalam hidup.

Pertama, Tak Menemani Saat Mama Sakit hingga Ajal Menjemput. Sebelum mama saya sakit, dia sempat kontra dengan tetangga sebelah rumah yang notabene arogan people. Waktu itu mama hanya menegur dengan halus, kenapa kok mendirikan bangunan mencaplok tanah samping rumah kami? Tetangga tersebut bukannya minta maaf, malah memaki-maki mama saya. Akhirnya, ya sudah lah, daripada ribut, mama saya pilih ngalah, toh tanah juga gak akan dibawa mati. 

Setelah kejadian itu, mama tiba-tiba sakit di bagian usus. Yang anehnya, mama selalu merintih sakit tatkala malam menjelang. Saat siang sakit itu tak ada gejala yang berarti. Keluarga tak mau bersuudzon, dan mengaitkan kejadian sakit mama dengan kontra tetangga sebelah. Walaupun kami tau, tetangga tersebut kerap berprilaku di luar batas normal. 

Kami pun berangkat ke rumah sakit. Hasil rontgen menyatakan mama ada penyumbatan di bagian usus, dan itu sudah kronis. Keluarga kaget. Yang kami tau, mama tak ada gejala penyakit yang serius. Mama masih kuat di usianya yang 63 tahun. Bukankah bila suatu penyakit disebut kronis, pasti di dahului gejala dini? Kok tiba-tiba kronis begini?

Akhirnya mama masuk rumah sakit, dan saat esok akan dioperasi, kondisi mama sudah melemah, beliau tak sanggup lagi menahan sakit itu. Mama kembali kepangkuan  Illahi dengan tenang ketika azan magrib berkumandang 15 April 2011.

Saya yang waktu itu masih bekerja di Batam, tak sempat melihat saat-saat terakhir hidup mama. Hanya jasad yang terbujur kaku yang saya temui  saat tiba di kampung. Hingga saat ini saya masih menyesal, mengapa saya tak di samping beliau di saat terakhir? 

Kedua, Saya belum bisa membahagiakan Orangtua. Sebelum mama meninggal, Papa  saya sudah duluan menghadap Sang Khalik, Agustus 1998. Ketika itu saya masih sekolah, belum bisa memberi beliau yang terbaik. Sedangkan mama meninggal keuangan saya sedang menipis, karena baru memulai usaha kecil-kecilan. Namun mama masih mengecap sedikit rezki yang saya kirimkan tiap bulannya. Sekarang, hanya doa yang saya kirimkan agar beliau diberi tempat terbaik di sisi NYA.

Dua itulah hal yang paling saya sesalkan dalam hidup. Bagi temans yang orangtuanya masih lengkap bahagiakan lah beliau. Tidak perlu berbentuk materi, sedikit perhatian saja bagi beliau sudah cukup. Karena umur ibumu belum tentu lebih panjang dari waktu sibukmu.

The most beautiful feeling in the world is to see your parents happy and knowing you are the reason behind that happiness.


0 komentar:

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.