Tuesday, December 08, 2020

Wisata Mangrove "Merdeka" ke Kampung Tua Serip Nongsa Batam

Salah satu spot wisata yang paling digemari wisatawan ketika di Batam adalah jembatan Fisabilillah atau Jembatan Habibie atau lebih dikenal dengan nama Jembatan Barelang. Tinggi, megah, dan menakjubkan, mungkin itulah kesan pertama melihat jembatan Barelang.

Jembatan kebanggaan Kota Batam ini, sering dijadikan ajang selfie dan ber-wefie para wisatawan. Selain itu, jembatan dengan tiang kokoh tinggi yang menyanggahnya, juga menawarkan view indah lautan luas dengan pulau-pulau kecil yang menghiasinya. Duduk manis di sisi jembatan, atau sekedar berjalan ke ujung jembatan pun menjadi alternatif pengunjung menghabiskan waktu senggang mereka, sembari mencicipi jajanan ringan, seperti jagung bakar, sate, aneka keripik dan lain sebagainya.
"Jembatan barelang merupakan pilot project berteknologi tinggi yang melibatkan ratusan insinyur Indonesia (tanpa campur tangan dari tenaga ahli luar negeri), yang menghabiskan anggaran sebesar Rp400 miliar selama enam tahun (1992 – 1998) pembangunannya. 
Jembatan Barelang wisata selain mangrove
Jembatan Barelang

Namun tidak hanya jembatan Barelang saja yang jadi tujuan wisatawan lokal dan luar Batam. Banyak wisata lain yang bisa jadi pilihan kamu bila mengunjungi kota Batam. Salah satunya Wisata Hutan Mangrove.

WISATA HUTAN MAGROVE BATAM

Batam adalah satu pulau kecil yang berada dekat dengan Singapura. Pulau Batam yang di kelilingi lautan, menyebabkan pergerakan penduduk sangat lah terbatas. Biasanya mereka memilih wisata keluar seperti Singapura dan Malaysia di kala weekend. Sedangkan wisata lokal sebagian besar memilih wisata pantai bareng bersama keluarga, sahabat dan juga teman-teman.

Nah, bila sudah bicara pantai, otomatis sepanjang pesisir pantai banyak ditanami pepohonan yang bisa mencegah abrasi air laut ke daratan. Salah satunya adalah pohon bakau atau mangrove. Pohon bakau adalah pohon multifungsi yang sangat membantu pengendapan lumpur di akar–akar pohon sehingga dapat mencegah terjadinya intrusi air ke daratan. Hutan bakau ini, tentu saja akan banyak manfaatnya untuk masa sekarang, dan akan datang.

Pemerintah pun sudah mulai menggalakan pelestarian hutan bakau di berbagai daerah pesisir. Digalakannnya pelestarian hutan bakau oleh pemerintah, tidak hanya bisa mencegah air laut ke daratan saja, namun bisa menjadi salah wisata edukasi alam yang bila ditekuni serius, akan meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menjadi sumber pendapatan warga setempat.

Salah satu tempat wisata bakau tersebut adalah kampung Serip Nongsa Batam. Lokasinya berada di wilayah Nongsa Sambau Batam. Butuh waktu 30 menit dari pusat kota menuju lokasi wisata bakau. Kebanyakan yang pergi ke sini adalah keluarga dan rombongan karyawan perusahaan yang ingin mengadakan acara bersama.


PERJALANAN MENUJU TITIK KUMPUL


Gerimis mengiringi perjalanan saya menuju titik kumpul keberangkatan. Di atas motor ojek online yang saya naiki, awan hitam sukses memukul rata luasnya langit, tanpa menyisakan sedikit pun warna biru. Cemas dan bergidik, bagaimana jika hujan deras tiba-tiba turun, yang membuat saya basah kuyup? sementara saya tak memmbawa baju ganti? Tetaplah gerimis seperti ya Pemilik Semesta, setidaknya hingga saya sampai di mobil nantinya. Begitu kira-kira doa saya dalam hati.

Kira-kira 15 menit, saya sampai di titik kumpul Halte Sentosa Plaza (SP Plaza) dengan gerimis yang tetap turun sejak tadi. Lega dan bersyukur doa saya didengar Sang Pemilik Alam. Saya pun langsung masuk ke dalam bus yang sudah di carter dan duduk di kursi single persis di jendela yang terbuka. Belum banyak yang datang, dari total 40 orang yang ikut, yang datang baru 10 orang saja. Mungkin beberapa orang menunggu hujan reda, mengingat ada yang membawa batita pada acara acara kali ini.

Tak lama setelah saya sampai, satu persatu anggota yang naik bus mulai berdatangan. Panitia pun langsung menyuruh masuk, agar bisa mengatur sisa kekurangan kursi. 20 menit kemudian, kursi pun full terisi dan bus langsung meluncur ke Kampung Serip Nongsa Batam. Waktu berangkat yang seharusnya pukul 8.00 WIB, terpaksa molor hingga pukul 9 lewat. Tapi ya, sudah lah, cuaca pun di luar prediksi. 


Ke KAMPUNG SERIP NONGSA

Bus yang kami naiki melaju sedang menuju Nongsa. Jalanan sedikit sepi. Sisa-sisa air hujan masih menghiasi jalan utama Batuaji-Panbil. Hanya beberapa motor dan angkot yang tampak mengisi jalan di Minggu pagi ini. Mungkin saja cuaca yang kurang bersahabat memicu warga Batam kembali menarik selimut daripada keluar di pagi mendung seperti ini.

Pukul 9.45, bus pun memasuki gerbang Kampung Tua Serip, begitulah nama yang terpampang pada atas gerbang. Jalanan yang tak beraspal dan lubang genangan air di beberapa tempat, memaksa bus yang kami tumpangi bergerak perlahan menuruni lokasi acara. Dari gerbang menuju area perhentian, berjarak 100m saja, hanya butuh 2 menit, bus pun berhenti dengan sempurna. 

Saya pun turun dengan antusias yang tinggi, mengingat, ini pertama kalinya saya wisata hutan bakau. Ketika saya turun dari bus, pandangan pertama saya tentu saja mengitari spot perhentian bus. Pasir putih nan bersih, terhampar radius 10 meter di depan saya berdiri. Barisan pohon kelapa tertata rapi dengan buah hijau yang menggoda. Hmm.. saya sudah membayangkan air kelapa muda yang manis membasahi kerongkongan saya yang kering ini.

Di sisi kanan saya, berdiri satu panggung cukup besar, sangat pas untuk acara perpisahan dengan menggunakan band sebagai hiburan. Sedangkan di belakang panggung, tersedia toilet, tempat wudu dan musala.


Di SPOT ACARA

Puas di tempat kumpul pertama, saya dan rombongan pun melaju ke spot acara yang sudah dibooking. Saya pun melewati jembatan kayu yang di kiri kanannya ditumbuhi pohon bakau yang tinggi. Air laut terlihat menggenangi lingkaran akar-akar bakau yang membelit pohon satu dengan lainnya.

Di sepanjang jembatan, banyak tulisan-tulisan lucu yang menghibur pengunjung menuju area bakau belakang. Ada juga pendopo kecil bila ingin berhenti sejenak menikmati suasana bakau, atau bisa juga ber swapoto dengan latar bambu yang disediakan di sekitar jembatan. 

Banyak juga dari rombongan yang enggan berfoto di sekitar jembatanini, termasuk saya. Entahlah, saya hanya sedikit bergidik dengan area sekitar bakau. Jadi saya memilih aman, daripada...daripada... dan daripada.
Spot Kampung Serip Nongsa Batam


Spot di Kampung Serip Nongsa Batam


Sampai di ujung jembatan, kami sudah di suguhkan oleh pemandangan pasir di sisi kiri dan kanan, Tujuan pertama pun langsung menuju pondok- pondok kecil yang telah kami sewa untuk meletakan barang bawaan. Harga sewa per pondok 50 ribu.

Kegiatan pun di mulai dengan pemberitahuan, apa saja kegiatan kita hari ini. Tujuan acara ini sebenarnya untuk meningkatkan silaturahmi sesama teman kerja dan melepaskan sejenak kerumitan dalam dunia kerja. 
wisata mangrove

pasir hutan mangrove
pasir putih di sekitar bakau




0 komentar

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.