Tuesday, August 10, 2021

Melestarikan Ragam Budaya di tengah Perbedaan


Saya lahir dan besar di kota Padang yang menganut sistem adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat yang berlaku bagi masyarakat Minangkabau, baik yang mendiami ranah minang, maupun di luar wilayah Sumatera Barat.

Tinggal dan besar di satu klan tertentu, bukan berarti semua penduduk bersuku minang. Tetangga kanan saya orang Batak bermarga Simangungsong, di belakang rumah tiga keluarga asli Jawa, bahkan di ujung blok rumah saya, berasal dari Nias dan Kalimantan. 

Tidak ada kelompok mayoritas dan minoritas, apalagi memaksa harus sama dengan golongan tertentu. Semuanya akur, kami tetap kompak bermain bersama, tanpa melihat suku, agama, fisik serta darimana mereka berasal. Sikap saling menghargai di tengah budaya yang berbeda, kami pegang teguh sebagai satu ikatan yang kuat, demi terjaganya persatuan dan kesatuan bangsa.

Majemuknya lingkungan tempat tinggal saya, ada nilai plus yang bisa diambil. Salah satunya mengenal lebih dekat adat istiadat mereka. Contoh saja, saat prosesi pernikahan adat Batak, mereka memakai ulos dan menari tor-tor. Adat Jawa adanya siraman, pengantin wanita yang memakai paes di dahi. Bahkan dari segi fisik, teman kami dari Nias memiliki ciri khas berkulit putih dan bermata sipit.

Hijrah ke negeri Melayu Riau Kepulauan, kemajemukan lebih mendominasi. Pendatang dari segala penjuru Indonesia hadir mengais rezeki di kota ini. Tidak ada pergesekan yang berarti. Semua berjalan sesuai aturan yang berlaku di masyarakat.

INDONESIA DAN KEKAYAAN SUKU BANGSA

Bangsa Indonesia adalah bangsa multikultularis. Sebanyak 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Pada setiap suku bangsa terdapat adat istiadat, bahasa daerah, agama, rumah adat dan keunikan ras yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

Ciri khas daerah ini lahir dari perbedaan-perbedaan lahiriah, warisan nenek moyang sejak dulu kala. Menurut sejarah, dulunya bangsa Indonesia merupakan masyarakat adat yang dipisahkan pulau-pulau, yang memiliki ikatan kelompok yang kuat. Kelompok masyarakat ini, memiliki kebiasaan-kebiasaan yang membedakan antar satu dengan lainnya. 

Faktor geografis salah satu yang memengaruhi keberagaman budaya di Indonesia. Seperti fisik (warna kulit, rambut), cara mereka berbicara, merespon sesuatu, dan tingkah laku alamiah yang menunjukan asal usul mereka. Secara tak langsung, keunikan ini bisa kita nikmati hingga sekarang. 

Contoh mendasar bisa kita lihat dari keseharian masyarakat yang hidup di pesisir pantai dan pegunungan. Masyarakat di pesisir pantai, bersuara lantang, karena dipengaruhi suara ombak. Rumah mereka cenderung beratap tinggi sebagai sirkulasi udara. Pakaian yang digunakan lebih ke bahan sejuk dan menyerap keringat. Sedangkan masyarakat yang hidup di pegunungan, rumah mereka cenderung beratap rendah, pakaian yang digunakan lebih tebal, untuk melindungi diri dari udara dingin.

Ragam budaya asli Indonesia mengalami pergeseran ketika penjajah masuk ke tanah air. Mereka membawa budaya barat yang mengakibatkan perubahan pada nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia, seperti bahasa, agama, pendidikan, kesenian, rumah tinggal, cara pandang dan tingkah laku. Tidak hanya itu saja, melalui perkawinan, terjadi percampuran ras yang melahirkan ras baru di Indonesia.

Secara umum ras penduduk Indonesia terbagi beberapa jenis,

  • Malayan-Mongoloid, tersebar di wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur
  • Melanosoid, kebanyakan tersebar di wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. 
  • Kaukasoid, ras ini umumnya adalah orang-orang India, Timur Tengah, Australia, Eropa, dan Amerika yang datang ke Indonesia.
  • Asiatic Mongoloid, adalah keturunan Tionghoa, Korea, dan Jepang yang tersebar di Indonesia.
Keragaman budaya Indonesai


INDONESIA dan BHINNEKA TUNGGAL IKA

Mungkin masih lekang dalam ingatan, bahwa sebelum negara kita merdeka, sudah berdiri kerajaan-kerajaan besar dan kecil yang mendiami wilayah Indonesia. Seperti kerajaan Hindu, Budha, dan Islam. Kerajaan-kerajaan ini digagasi oleh pedagang dari luar, yang masuk ke wilayah Indonesia.

Salah satu kerajaan besar yang berpengaruh saat itu adalah kerajaan Hindu, Majapahit. Di mana pada saat itu kerajaan Budha tumbuh beriringan dengan kerajaan Hindu. Raja Majapahit kala itu, Hayam Wuruk, mengajarkan bagaimana membangun kehidupan yang rukun, harmonis di tengah perbedaan.

Dari perbedaan prinsip ini lah lahir kata Bhinneka Tunggal Ika, sebagai semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada dasar negara Pancasila. Kalimat ini diambil dari pemikiran Mpu Tantular yang tertuang dalam buku Sutasoma "berbeda-beda namun tetap satu", yang bermakna kehidupan beragam secara lahiriah tetap mampu membangun suasana rukun untuk satu tujuan hidup bersama dalam NKRI. 


PENGARUH BUDAYA LUAR & CARA MENYIASATINYA

Arus globalisasi tidak bisa dihindarkan. Kecanggihan teknologi sedikit banyak merubah tatanan hidup setiap elemen masyarakat dari segi infomasi. Begitu juga dalam hal budaya. 

Generasi muda yang diharapkan sebagai penerus bangsa, mulai aktif bermedia sosial. Kondisi ini menyebabkan gempuran informasi masuk tanpa partisi. Hal yang ditakutkan adalah ketika individu, khususnya remaja, tidak siap menerima pergeseran nilai-nilai budaya, yang mengakibatkan budaya yang dipegang teguh selama ini, tergantikan oleh budaya asing.

Lemahnya generasi muda melestarikan keragaman budaya nusantara, salah satu faktor pemicu mudahnya budaya asing masuk ke Indonesia. Pancasila yang seharusnya menjadi seperangkat nilai untuk menata dan mengatur tiap-tiap warga negara, tidak lagi dipegang teguh oleh generasi sekarang. Akibatnya, identitas bangsa yang religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan berintegritas hilang begitu saja.

Antusias berlebih terhadap budaya luar, ditambah lemahnya semangat melestarikan keragaman budaya, membuat masyarakat kita lebih individualis, hedonis, dan materialistik. Sikap seperti ini sering kita temui di kehidupan sehari hari maupun di media sosial. Bila dibiarkan, masyarakat kita akan terpecah belah yang otomatis rasa kesatuan dan persatuan hilang dalam tatanan hidup bangsa Indonesia.

Lihat lah contoh nyata sekarang, banyak generasi muda menggemari semua hal berbau Korea, mulai dari makanan, style, hanbook, sampai musik K-Pop yang sangat populer di telinga anak muda menjadikan mereka Korean Hallyu wave.

Senada ketika konser musik Hallyu diadakan, tiket langsung sold out. Properti pendukung pun juga sama larisnya. Namun hal sebaliknya terjadi jika pentas musik kedaerahan diadakan, hasilnya malah berbanding terbalik.

Tidak ada yang salah menjadi Korean Hallyu wave dan cinta budaya luar lainnya. Tingginya invasi budaya asing ke Indonesia tidak bisa dikendalikan. Kondisi ini seiring dengan laju globalisasi yang memaksa kita mengikuti inovasi sebagai tuntutan kemajuan jaman.

Hal yang paling ditakutkan adalah ketika hilangnya norma-norma kebhinekaan sebagai akibat fanitisme terhadap budaya luar. Munculnya sikap individualisme, rasisme, apatis terhadap budaya lokal, hingga berdampak pada stabilitas keamanan, sosio-ekonomi, dan ketidakharmonisan sosial.

Harus ada usaha dan tekad yang kuat dari semua elemen masyarakat, sebagai upaya mempertahankan budaya lokal, agar warisan asli budaya Indonesia tetap kekal di hati setiap generasi, tanpa bisa dicuri atau diklaim oleh bangsa manapun. Karena sejatinya, melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan agar tercipta rasa aman, tentram dan harmonis.

Sebagai generasi penerus bangsa, apa saja yang harus kita lakukan untuk dapat berkontribusi dalam memelihara keanekaragaman yang ada di Indonesia serta melestarikan ragam budaya berbeda?

1. Mengenal Lebih Dekat Budaya Lokal

Tak kenal maka tak sayang, setidaknya itulah ungkapan lama yang masih berlaku hingga sekarang. Mengenal budaya lokal adalah salah satu cara melestarikan ragam budaya di negeri tercinta. Tidak perlu terjun langsung ke daerah untuk mendapat informasi akurat. Cukup melalui ensiklopedia, buku kedaerahaan dan memanfaatkan internet sebagai sarana mencapai informasi.

2. Ikut Berpartisipasi dalam Kegiatan Seni 

Pentas seni, parade baju kedaerahan, salah satu lagkah bijak melestarikan ragam budaya. Berpartisipasi dalam kegiatan kesenian, setidaknya menambah pengalaman dan kecintaan kepada budaya sendiri.

3. Jadikan Budaya Nasional Sebagai Identitas Bangsa

Bangga dengan budaya sendiri sudah cukup menunjukan siapa kita di mata internasional. Apalagi semua elemen masyarakat kembali ke nilai dan karakter utama bangsa yakni religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan berintegritas

4. Mengenalkan Budaya Nasional di Kancah Internasional

Kalau dulu masyarakat luar negeri hanya tahu Bali, sekarang stigma itu sudah terganti. Banyak ragam budaya Indonesia, sudah terkenal hingga ke mancanegara melalui pertukaran pelajar, pagelaran fashion show, promosi pariwisata, bisnis, sampai situs-situs yang membahas keragaman budaya Nusantara. Sebut saja Rendang, diakui sebagai masakan terenak nomor satu dunia. Belum lagi tarian tradisional seperti Tari Saman, Kecak, Jaipong, Tari Piring, Tor-tor, Reog Ponorogo yang memikat warga luar ingin mengenal lebih dekat.

Di balik sikap toleransi dalam keberagaman, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam menjaga dan merawat toleransi, kebersamaan dalam keberagaman. Salah satunya dengan pendidikan. Sejatinya mereka yang berpendidikan, baik formal maupun non formal, lebih memiliki kreativitas, pengetahuan, mandiri, integritas dan pribadi yang bertanggung jawab. 

Generasi berpendidikan, diharapkan dapat bekerjasama dengan yang lain, dalam mengembangkan kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi dalam menerapkan nilai-nilai Kebhinnekan, dan memberikan penyelesaian dari konflik-konflik yang berkembang di masyarakat secara sabar, damai,  demi memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas di masyarakat.


MASALAH INTERNAL DI TENGAH  RAGAM BUDAYA

Menyatukan budaya yang berbeda tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada titik-titik krusial yang bila tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi gesekan-gesekan pemicu konflik sosial yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Primodialisme, Sukuisme, Bullying, hate speech, merasa mayoritas bukan hal baru lagi di tengah keberagaman Indonesia. Media sosial kerap dijadikan sarana penyebar isu negatif untuk menyerang. Berita hoax santer digaungkan baik secara langsung maupun melalui media sosial, guna memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Sayangnya, kita lebih mudah terpengaruh isu negatif daripada menelaah kebenarannya.

Perbedaan di tengah kemajemukan, ibarat mozaik yang harus ditata menjadi satu kesatuan utuh. Perlu kesadaran bersama agar nilai-nilai kebhinekaan tetap terjunjung tinggi. Kebhinekaan hendaknya ditanamkan sejak dini, agar tidak terjadi pergesekan di masyarakat. Setiap elemen harus bekerja sama, bergandengan tangan, saling menghargai, hingga tercipta keharmonisan di tengah perbedaan budaya.

Perbedaan budaya, ras, agama dan bahasa hendaknya menjadi titik acuan bahwa dalam ragam budaya berbeda, kita disatukan oleh kata Indonesia.

Tugas kita sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas, tetap bisa memilih informasi yang baik, meredam isu negatif yang akan menyebabkan manifestasi konflik, dan membangun toleransi, kebersamaan dalam keberagaman budaya, agar tetap menampilkan jati diri Indonesia sebagai negara heterogen, multikultural demi persatuan dan kesatuan bangsa.



1 komentar:

  1. Setuju banget kita boleh suka musik korea dan barat tapi jangan melupakan identitas kita sebagai masyarakat Indonesia

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.