Sabtu, 25 Maret 2017

Menyikapi Masalah Setelah Perselingkuhan


Masih ingat kan ya, dengan salah seorang blogger yang yang baru-baru ini menulis tentang perselingkuhan suaminya? Tulisan yang berisi curahan sakit hati, kekecewaan dan kebencian tentang si pelaku selingkuh, yang akhirnya menjadi viral di media massa? Dan bahkan, telah dibaca sebanyak 21.000 kali lo. Ckckck..mencengangkan ya? Mengapa berita seperti sangat cepat sekali di respon, dan dishare perempuan, di banding berita yang lainnya?

Adalah wajar, perempuan mempunyai rasa yang sama dan keterkaitan satu sama lain. Mereka mudah tersentuh, mudah merasa dan terlalu peka dengan hal-hal yang berbau feeling. Mereka pikir, perempuan dalam posisi ini adalah perempuan yang sangat perlu dikasihani. Kesetiaan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan apapun! Secara logika memang benar, tidak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang mau teman hidupnya berpaling ke “body” yang lain. Tapi apakah harus menjudge tanpa tau titik masalahnya?

Saya hanya mengambil 2 persepsi dari cerita ini. Pertama sangat disayangkan saja, berita seperti ini harus di blow up ke media. Kedua, saya ambil dari sisi positif lagi, yang sangat bagus untuk dijadikan warning bagi perempuan, yang berpikir akan merebut milik orang lain. Disini saya bukan menyalahkan blogger, dan juga tidak mendukung tindakan itu sepenuhnya. Toh, kalaupun ini terjadi sama saya atau bunda sendiri, deritanya sama dengan cerita yang viral ini. Rasa kecewa, sakit hati dan frustasi akan sebuah pengkhianatan. 

Namun, masih ada beberapa hal yang perlu ditahan, agar tidak melibatkan banyak orang. Karena saya pikir, akan banyak aspek yang timbul dari sebuah kasus. Apalagi sampai viral di masyarakat. Wokeh, tindakan pertama awalnya mencurahkan kekesalan karena dikhianati. Tidak peduli, tidak mau tau dan tidak ambil pusing dengan semuanya. Yang terlintas di otak saat itu hanya bagaimana membuat malu keduanya, serta memberi pelajaran yang setimpal atas perbuatannya itu.

Sudah selesaikah cerita sampai di sini? Saya rasa belum. Bukankah ada keluarga besar di luar sana yang akan terkena dampaknya? Bagaimana pendapat mereka tentang hal ini? Bagaimana juga efeknya ke anak-anak? Bisakah mereka menerima kenyataan yang telah ikut menyeret mereka ke pusaran arus yang kuat?

Yang paling menyesali pertama kali, tentu saja orangtua. Tidak ada satu orangtua pun, yang menginginkan anaknya bercerai. Tapi, beliau juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas kejadian yang menimpa anaknya. Orangtua hanya bisa menasehati, mengingatkan kemungkinan terbaik, serta menyerahkan semua keputusan kepada mereka. Karena mereka yang menjalani, mereka yang menentukan dan mereka jualah yang harus menyelesaikannya.

Begitu juga dengan anak, yang tidak tau apa-apa, dan tidak pernah membayangkan semuanya terjadi. Oke, kalau anak masih kecil dan belum mengerti apa artinya berpisah, mungkin semuanya akan fine-fine saja. Namun akan jadi masalah, jika anak dengan mental yang masih labil dan dalam kondisi yang masih meraba-raba, yang dalam hal ini masih membutuhkan kedua orangtuannya, tentu ini tidak akan normal baginya.

Sesaat anak akan merasa down dan hilang keseimbangan. Menahan cibiran dan cemoohan dari teman-temannya, tentu menimbulkan luka batin yang dalam bagi si anak. Tidak jarang anak mencari media untuk melampiaskan kekecewaan dan kekesalannya. Mencari sesuatu, agar bisa menolongnya melepaskan beban hatinya. Hal yang ditakutkan adalah, ketika media yang ditemuinya lebih mendorongnya ke hal-hal yang berbau negative, yang akan membawa si anak pada kemungkinan terburuk. Langkah preventive harus segera di ambil oleh keluarga terdekat. Karena peranan keluarga lah yang sangat penting dalam hal ini, untuk dapat menyelamatkan anak dan mengembalikan rasa percaya dirinya, sebelum semuanya terlambat. 

Nah, di sini sudah jelas sekali, efek kuatnya lebih mengarah kepada orang-orang terdekat, di banding pelaku selingkuh itu sendiri. Bagi suami, mungkin hanya merasa malu dan bersalah kepada orangtua saja. Itupun kalau orangtuanya masih ada. Tapi hanya sedikit kepada sang istri. Mengapa begitu? Kalau mereka pikir selingkuh itu beresiko dan mengancam keutuhan rumah tangganya, tentu si laki-laki tidak akan pernah melakukan, walau seberapa besar godaan itu, yang mungkin saja bisa mengguncang iman mereka. 

Lantas bagaimana dengan perempuan selingkuhan? Adakah rasa bersalah telah menggangu rumah tangga orang lain? Semua berbalik ke perempuan itu lagi. Bisa jadi dia menyesal, bisa juga tidak. Kalau niat mencari uang saja, tentu tidak ada penyesalan baginya, tapi kalau sudah timbul rasa menyayangi diantara keduanya, itulah yang disebut selingkuh. Menyesal atau tidak, yang namanya menggangu rumah tangga orang lain, tetap tidak bisa dimaafkan!

Inilah yang harus diwaspadai oleh kita sebagai perempuan. Jangan sampai lengah terhadap hal sekecil apapun yang akan merusak keharmonisan dalam rumah tangga. Orang lain hanya melihat kasus ini dari luarnya saja. Sebagian mendukung, namun lebih banyak yang menghakimi. Kebanyakan perempuan selalu disalahkan bila suaminya berpaling. Alasan tidak masuk akal sering kali terucap, seperti tidak bisa menjaga suami lah, tidak bisa ini, itu dan segala macamnya. Trik preventiv pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara memperbanyak komunikasi, dan meningkatkan intensitas pertemuan antara kedua belah pihak. Ini bisa jadi salah satu cara menghindarkan keduanya mendapat celah untuk berkhianat.


Terkadang penyesalan sering terjadi setelah rasa kesal sudah terlampiaskan. Niat memaafkan dan harapan ingin rujuk kembali, mulai terlintas di kepala. Lalu langkah apa yang perlu kita ambil bila ini terjadi?

1. Menerima Walaupun Sakit.
Banyak para istri yang sampai ke tingkat depresi karena tidak bisa menerima kenyataan suaminya berpaling. Namun beberapa di antaranya memilih memaafkan, dan menerima segala kekurangan pasangan, walaupun sakitnya harus ditelan bulat-bulat. Banyak faktor yang jadi bahan pertimbangan, salah satunya adalah anak-anak. Rasa sayang yang begitu tinggi terhadap anak, yang membuat para istri memaafkan suaminya. Butuh kesabaran dan rasa ikhlas yang super duper tinggi, untuk membangun kembali rumahtangga yang sudah diambang kehancuran. Menerima walaupun sakit, mungkin jauh lebih baik, daripada memutuskan mengakhiri semuanya. Banyak fakta yang terjadi, perkawinan akan semakin kokoh setelah diterpa berbagai masalah. Sesuatu yang baik akan muncul, apabila kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kembali lagi, rasa ikhlas sangat di butuhkan sekali ya Bun. Ingat, kesabaran dan keridhoan seorang istri terhadap suaminya, balasannya adalah surga bukan?. Aamin.

2. Bercerai, Melupakan dan Memulai Lembaran Baru
Tidak sedikit juga perempuan yang memilih mengakhiri pernikahannya. Kebanyakan ini terjadi pada wanita karir yang telah mapan secara financial. Awalnya mereka juga shock, dan tertekan. Tapi kebanyakan mereka cepat move on, dan berusaha mengakhiri dengan cepat.  Mereka pikir, tanpa suami pun mereka dapat hidup secara normal dan beraktifitas seperti biasa. Dengan banyaknya koneksi dan intensitas pertemuan yang tinggi dengan orang banyak, mereka akan cepat menemukan pengganti dan memulai lembaran baru bagi hidupnya ke depan nanti. 
Tapi perlu diingat, dalam Islam, perceraian sangat dibenci, tapi dibolehkan dengan syarat tertentu. Berhati-hati aja ya Bun, karena syaitan tidak akan berhenti mengganggu dan menghasut suami istri untuk bercerai. Karena amalan terbaik syaitan dan tertawa terbaiknya adalah bisa membuat suami istri berpisah. Wallahualam.

"Masalah tak seharusnya membuatmu menyerah. Karena masalah akan menguatkanmu, jika kamu mau belajar dan mengambil hikmah daripadanya. Buanglah rasa benci, karena kebencian hanya merugikan diri sendiri, tersenyumlah ketika disakiti, bersabarlah jika dikhianati".
"Jangan pernah menoleh ke belakang. Jika hari kemarin tak berakhir seperti yang di inginkan, tetaplah bersyukur, masih ada hari esok yang diciptakan Tuhan untuk memperbaiki semuanya."
Wahai pria yang bergelar suami...
Perlakukan istrimu sebaik engkau menghormati ibumu. Istrimu bukanlah pembantumu, bukanlah aib yang membuat engkau malu. Bukankah dia yang telah melahirkan anak-anakmu? Bukankah dia yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepadamu? Sekali saja engkau mengingkari janjimu (akad nikah), itu berarti engkau telah meletakan sebelah kakimu ke neraka.

Lebih banyak bersyukur dan tawakkal ya Bun. Berdoa terus untuk tetap dalam rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. AAMIIN.

Untuk Dian Fernanda, kalau terjadi seperti ini, sousinya gimana ya?

Mudah-mudahan bermanfaat.
See ya to the next story.



51 komentar:

  1. Sungguh dilemma kalau ini terjadi. Saya pribadi masih blm tahu akan bertindak spt apa dan semoga tidak akan mengalaminya.... Amin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai terjadi sama kita ya mbak, aamiin.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Bagaimana pun aib seseorang, apalagi pernah dekat dengan kita, tak perlu orang lain tahu. Mungkin dia sudah siap dengan risikonya jadi enteng saja menebar aibnya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bang Uma, mungkin juga masalahnya sudah sangat komplek, jadi ya segala resiko sudah dipikirkannya.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. baca yang viral itu, dan banyak yang menghakimi sisi perempuan perebut. padahal kita gak tau kenapa bisa begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena memang hukum masayarakat seperti itu. Tetap yang salah si perempuan yang dekat dengan suami orang.

      Hapus
  5. Ini penyebab utama dr banyak perceraian sekarang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, malah istri gugat suami yang paling tinggi.

      Hapus
  6. Dulu sebelum menikah,rasanya solusi bila pacar selingkuh ya gampang saja : berpisah (putus). Ternyata setelah nikah,semuanya ya harus dipikirkan dan dipertimbangkan betul2. Apalagi kalau sudah ada buntut yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, memang, istri harus lebih banyak sabar, karena efeknya di dunia belum nampak, tapi jaminannya adalah surga. ya kan.

      Hapus
  7. bingung mau komentar apa. hehe tapi apakah aku orang yang setia? semoga aku setia sama pasangan aku nantinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yakin setia Roy, Jangan sampai SEtiap TIkungan Ada ya. Hehe

      Hapus
  8. Semoga saja tak terjadi perse;ingkuhan dalam pernikahan ya mba

    BalasHapus
  9. Nauzubillah min dzalik mbak, jangan sampe kejadian, klo kejadian saya masih bingung harus apa, yang namanya perceraian yang jadi korban selalu anak2,
    Sebelum nikah, saya menilai laki2 dri kedekatannya dengan ibu, karena jika laki2, dekat dan sayang dengan ibunya, dia juga akan memperlakukan hal yg sama trhadap istrinya

    BalasHapus
  10. Nauzubillah min dzalik mbak, jangan sampe kejadian, klo kejadian saya masih bingung harus apa, yang namanya perceraian yang jadi korban selalu anak2,
    Sebelum nikah, saya menilai laki2 dri kedekatannya dengan ibu, karena jika laki2, dekat dan sayang dengan ibunya, dia juga akan memperlakukan hal yg sama trhadap istrinya

    BalasHapus
  11. Duh, ngomongin perceraian. Paling rugi perempuan dari sisi manapun.

    BalasHapus
  12. Balasan
    1. Cup-cup-cup..jangan sedih ya dek..

      Hapus
  13. Semoga di jauhkan dari kata perceraian ya Mbak Yulia. Aamin
    Jadi teringat sama teman setelah proses perceraiannya tidak membuat beliau larut dalam kesedihan justru Dia terus bangkit dan menata hidupnya kembali.. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai mbak, Kita harus bangkit dan melihat harapan baik ke depannya.

      Hapus
  14. ibuku pernah mba sama bapak diselingkuin, bahkan si wanita tlp ibuk bilang kalo mrk nikah siri.
    Enek jadinya dan merasa benci sama bapak. Tapi ibu memilih bersabar demi anak-anak.
    Semoga wanita di dunia selalu diberi kekuatan lebih dan lebih lagi aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali lagi mbak, harus butuh kesabaran super duper tinggi untuk bisa memaafkan, dan itu hanya bisa dilakukan bagi orang-orang yang bertaqwa mbak. Salah satunya ibu mbak kan.

      Hapus
  15. Dilema jg ya mba. Ada beban yg berat setelah tahu pasangan selingkuh. Baiknya nenangin diri dl sebelum ambil keputusan cerai atau mau memaafkan. Tp klo selingkuh biasanya lukanya lama sembuhnya dan orang lebih milih untuk cerai. Serba salah buat sang istri dan anak yg nanti jd terpisah dg ayahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, jadi dilema banget, apalagi sudah ada anak, bagai makan buah simalakama.

      Hapus
  16. Baca postingan ini, jadi ingat pernah jd korban selingkuhan sik, parahnya saat tugas akhir.. diih jahat ya. Tapi meski jadi korban, dan perempuannya kukenal, aku tetap maju, tunjukin ke mereka bahwa masalah tersebut tak mengganggu aktifitas kuliahku, malah ngebet banget cepat2 keluar kampus. Dannnn selang dua tahun, si mantan minta balikan dan pengen nyusul ke Batam. Hahahaha.. saya cuma jawab ke dia "Ingat aja janji kita, sekali coba3 merusak kepercayaan, maka rusaklah selamanya". hehe _euft kok jadi curcol_ wkwkw

    Duuuh, jauh2 deh perselingkuhan dari kita setelah berkeluarga nanti. hus hus hus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah..chaya pernah diselingkuhin juga? Ya ampun kasihannya, apalagi pelaku teman sendiri. Pagar makan tanaman dong. Tapi sekarang dah move on kan?

      Hapus
  17. aduh gak kebayang kalau kejadian...
    karena yg cuma membaca..melihat..dan merasakan sendiri itu beda rasa.....

    BalasHapus
  18. Jauh jauh deh dari perselingkuhan, mba :( . Soalnya yang rugi perempuan dan anak anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauh-jauh banget malah mbak.. apalagi (maaf) sampai membuka aib suami sendiri.

      Hapus
  19. saya sempat terdiam lalu marah saat tau salah satu orang yang saya kenal melakukan hal ini. Entahlah alasannya cintalah dan tidak bisa mengakhiri hubungan padahal sama2 sudah punya pasangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bingung juga ya mbak, tapi kalau menurut saya hal seperti itu lebih ke gaya hidup deh.

      Hapus
  20. Oh jadi sampai ramai di FB itu karena blogger nulis di blognya? Heu..ketinggalan info. Sayang juga sih kenapa sampai dituliskan segamblang itu. Efeknya bisa ke keluarga terutama trauma di anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sih mbak, tapi kembali lagi sama si mbak yang bikin, berarti dia sudah siap dengan segala konsekwensinya.

      Hapus
  21. na'udzubillah ya mba.. katanya 5 tahun pertama rentan sama perceraian y, Alhamdulillah udah lewat n emang perjalanannya warwiasyaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh perjuangan banget mbak mempertahankan perkawinan sampai maut memisahkan, Tatap terus belajar dan belajar terus.

      Hapus
  22. Na'udzubillahi min dzalik.. Semoga gak akan pernah kejadian pada kita ya..

    BalasHapus
  23. Yang namanya perempuan dalam bergaul harus hati hati apakah sudah bersuami terlebih single karena fitnah besar banget, oleh karena itu sebaiknya menjaga pandangan lisan dan kata mesti dilakukan jangan sampai disalahartikan sama teman laki laki. Kalau semua wanita bisa menjaga diri pasti kan baik baik saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang juga si perempuannya kegatelan pengen nyari perhatian c. Di tempat saya kerja aja ada lo mbak..sampe dah males orang liatnya.

      Hapus
  24. kalo menurut saya sih sang istri kurang dewasa menyikapi hal ini dengan meng-share ke media sosial.
    kemungkinan kedua adalah tidak kuat menerima cobaan sehingga mencari perhatian di luar sana.
    Kemungkinan ketiga adalah balas dendam dengan mempermalukan sang pelaku.

    tapi apakah efektif? untuk jangka pendek mungkin iya, itu pun untuk sang penulis. kepuasan yang diraih dari sisi keviralan.

    bener apa yang ditulis mb marza. bagaimana efek untuk keluarga? orang tua, apalagi anak-anak? apakah tidak terpikir seperti itu? bahwa yang di-share adalah sebuah aib? meskipun sudah bercerai? itu aib kak!

    menyebarkan aib bagai memakan bangkai saudaranya sendiri!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeri memang mas Akut. Mungkin juga udah gak mikir lagi efek baiknya. Yang penting balas dendam. Padahal itu aib mas..aib.

      Hapus
  25. Semoga wanita-wanita yang masih single bisa menjaga jarak dengan suami orang lain dan jangan pernah berharap menjadi miliknya, dan menghargai perasaan sesama wanita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maunya sih begitu mbak, tapi yah itulah..gak semua berpikiran normal seperti kita mbak.

      Hapus
  26. InsyaAllah setiap kejadian jika dipasrahkan pada Allah dan ikhlas menerima dan mencari solusi terbaik, dan menyelesaikan masalah. Karena masalah yang tak selesai hanya akan menyiapkan bom waktu :)

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan.